Elektabilitas Jokowi di mata PNS/Guru masih di bawah Prabowo (Ist)
Elektabilitas Jokowi di mata PNS/Guru masih di bawah Prabowo (Ist)

MALANGTIMES - Kini, giliran para pegawai negeri sipil (PNS) atau disebut aparat sipil negara (ASN) dan guru yang jadi rebutan para kontestan pilihan presiden (pilpres) 2019. 

Baca Juga : Ini Jawaban Ustaz Yusuf Mansur saat Ditanya Apakah Dukung Anies Baswedan Maju Pilpres 2024

Dimana, suara para PNS/guru ini dijadikan alat bukti terkait keunggulan dari pasangan calon presiden dan wakil presiden 2019 yang akan naik kursi nomor satu Indonesia.

Suara PNS/guru ini pula yang oleh Lembaga Center for Strategic and International Studies (CSIS) dijadikan subjek survei sejak tanggal 15-22 Maret 2019 lalu. 

Dimana hasil survei CSIS dengan margin of error survei  plus-minus 2,21 persen dan tingkat kepercayaan 95%. Menempatkan paslon nomor urut 02 mendulang 48,2 persen suara. 

Sedangkan  Jokowi-Ma'ruf Amin memperoleh 33,7 persen suara guru/PNS.

Hasil survei tersebut, sontak membuat para pendukung paslon nomor urut 02 menyambutnya dengan berbagai cara. 

Misalnya, seperti yang dilakukan Fadli Zon anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga. 

Dengan menyampaikan  hasil survei CSIS tersebut memperlihatkan kegagalan Jokowi dalam menjalankan pemerintahan di mata PNS/guru.

"PNS paling tahu bahwa praktik pemerintahan banyak yang tidak beres. Mereka tidak bisa dikelabui. Kita lihat saja di Kementerian Agama dan di kementerian lain. Pemerintahan Jokowi gagal menciptakan clean government (pemerintahan yang bersih) dan kepemimpinan yang benar," ucap Fadli Zon, Jumat (29/03/2019) kepada media serta mencuitkan terkait itu di akun Twitternya @fadlizon.

Pernyataan Fadli Zon tersebut, sontak menyulut reaksi warganet di akunnya tersebut. 

Dimana, warganet beramai-ramai menyampaikan komentarnya, baik yang membenarkan pernyataan Fadli maupun yang kontra.

@Suadmaji88 misalnya, menuliskan, "Hasil Survei bapak kemungkinan benar, namun pernyataan bapak ini kurang sesuai keadaan dilapangan #PNS pilih Prabowo karena Jokowi Gagal di Clean Government#  Kemungkinan pernyataan yg tepat adalah karena mgkin mereka belum siap meninggalkan zona nyaman." 

Akun lainnya pun berkomentar serupa. Dimana warganet menilai, kemenangan Prabowo-Sandiaga di survei CSIS atas PNS/guru dimungkinkan zona nyamannya selama ini terusik oleh Jokowi-Ma'ruf Amin.

@sapalah068 berkomentar, "Bukannya karena susah chipping2 , dan mereka merasa bisa kembali kezaman feodal, ketika PNS laksana tuan tanah yg punya segalanya ?" tulisnya.

Di kubu lainnya, warganet yang mendukung pernyataan Fadli, seperti akun @IrhamSastra menuliskan, "Mantappppp PNS...Kalian 4 tahun disuruh kerja...kerja...kerja... tanpa naik gaji,,,". Senada dengan akun lainnya yang berada di kubu Paslon 02. 

Baca Juga : Dewan Dorong Pemkot Malang Salurkan Bantuan Sembako bagi Warga Terdampak Covid-19

Rosita Sahara melalui @SaharaRosita menulis, "Betul bang... dan seenak udel nya main pecat aja jika ada yang ga mau pilih jae".

Perang warganet di media sosial akan terus berlangsung setiap kali muncul informasi-informasi terkait itu. 

Bahkan, setiap pernyataan para tokoh di kedua belah kubu pun langsung memantik pernyataan lainnya.

Saat Fadli melontarkan pernyataan terkait hasil survei CSIS tersebut, pihak Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf pun langsung menyampaikan pernyataannya. 

Melalui Arsul Sani, Wakil Ketua TKN, hasil survei tersebut dimungkinan adanya ekspektasi yang diharapkan mereka kepada Jokowi tidak terpenuhi.

"Ya bisa jadi karena ekspektasi mereka untuk mendapatkan yang lebih itu nggak terpenuhi. Ya mendapatkan yang lebih itu kan misalnya kenaikan yang jauh lebih besar dari yang ini. Kan sudah dinaikkan juga," ucap Arsul Sani yang juga menegaskan, pihaknya tidak bisa melihat hasil survei dengan segmentasi tertentu.

"Kita lihat hasil survei secara keseluruhan. Karena tidak ada capres-cawapres yang bisa menang di semua provinsi atau segmen," ujar Asrul.

Pernyataan Asrul juga didasarkan pada survei CSIS yang melansir bahwa kedua paslon capres-cawapres memiliki kantong suara masing-masing. 

Jokowi-Ma'ruf meraup banyak suara di Jawa Tengah dan Yogyakarta dengan angka 70 persen, NTT, NTB dan Bali sebanyak 66,3 persen, lalu Kalimantan sebanyak 64,6 persen.

Sedangkan kantong suara Prabowo-Sandiaga yang mengungguli Paslon 01 ada di wilayah Sumatra dengan perolehan suara 49,6 persen. 

Hasil survei CSIS sampai kemarin, menempatkan Jokowi-Ma'ruf Amin dengan angka 51,4 persen.

Sedangkan untuk Prabowo-Sandiaga masih diangka 33,3 persen. 

Dari survei tersebut juga ada yang tidak menjawab sebanyak 14,1 persen dan belum menentukan pilihan 1,2 persen.