200 Hektar Hutan Lindung Apusan Rusak, Pembalakan Liar Pemicunya

MALANGTIMES - Keberadaan hutan di Malang Selatan, khususnya, telah menjadi rahasia umum, kondisinya memprihatinkan. 

Bukan saja hutan produksi, tapi hutan lindung pun, kondisinya terus mengalami kerusakan setiap tahunnya.

Bahkan,  hutan lindung Apusan yang terletak di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe) yang berfungsi untuk konservasi vegetasi dan satwa endemik yang ada didalamnya. 

Sekaligus benteng pertahanan dari terjadinya bencana alam banjir dan longsor, kondisinya sangat memprihatinkan.

Sekitar 200 hektar (ha) hutan lindung Apusan rusak dan mengakibatkan satwa langka yang berhabitat di dalamnya semakin jarang ditemukan. 

Lutung Jawa (Trachyterus auratus), burung rangkong jenis kangkareng perut putih (Anthracoceros albitrosis), kera ekor panjang, burung raja udang biru dan hewan lainnya. 

Menyusut populasinya di hutan lindung Apusan.
Kerusakan tersebut dibenarkan oleh  Wakil Administrasi Perhutani Malang, Ahmad Fadil, yang menyatakan, pembalakan liar menjadi salah satu penyebab terjadinya hal tersebut.

"Kita telah menerjunkan personil Polhut beberapa waktu lalu untuk pengecekan dan pengamanan. Kita duga para pembalak itu warga yang tinggalnya tidak jauh dari areal hutan. Sedangkan kayunya dibawa keluar lewat laut," kata Fadil yang menyebutkan pembalakan liar terjadi di petak 68B dan berdekatan dengan pantai Sendiki dalam wilayah hutan lindung Apusan yang memiliki luas total 566,2 ha.

Pembalakan liar pula yang sejak bertahun lalu, diduga sebagai pemicu rusaknya hutan di Malang Selatan selama ini. 

Walau sanksi pidana ilegal logging terbilang berat, terutama yang berlokasi di hutan lindung, yaitu penjara 5 tahun dan denda Rp 5 miliar sesuai Pasal 50 Undang-Undang Kehutanan Nomor 41 Tahun 1999. Tapi, para pembalak liar terus saja beroperasi.

Contoh nyatanya adalah di hutan lindung Apusan yang mengalami kerusakan hampir setengah luas total areanya. 

Kerusakan yang bukan saja membuat wilayah sekitar semakin rentan bencana alam. Tapi juga telah membuat satwa langka semakin menyusut keberadaannya.

Hal ini dikuatkan dengan data dari Profauna Indonesia melalui pengamatan antara Desember 2018 sampai Februari 2019. 

Pembalakan liar telah menyebabkan satwa langka seperti lutung Jawa di hutan lindung Apusan tinggal dua kawanan saja. 

Dimana satu kawanan lutung Jawa terdiri dari sekitar 7-10 ekor. Pun hewan langka lainnya yang semakin jarang terlihat.

Profauna juga melakukan penelitian terkait kerusakan hutan lindung Apusan yang disebabkan pembalakan liar. 

Dari data mereka, kerusakan hutan lindung Apusan maupun di wilayah Malang Selatan lainnya telah lama terjadi.  

Walau berbeda hasilnya dengan yang dilakukan oleh pihak Perhutani, terkait pelaku pembalakan liar sebagai penyebab rusaknya hutan lindung.

Rosek Nursahid, Ketua Profauna Indonesia, mengatakan, dugaan pelaku pembalakan bukan warga desa setempat. 

"Ini didasarkan dari pengalaman kami. Warga biasanya rata-rata takut melakukan hal itu. Dugaan kami malah pembalakan dilakukan warga luar desa," ujarnya.

Kalaupun ada warga desa yang melakukan pembalakan liar, lanjut Rosek, mereka hanyalah korban dari para pemilik modal yang mempekerjakannya. 

Para pemilik modal yang memberikan janji upah besar serta yang menjamin perbuatan mereka itu aman.

"Sebenarnya ini yang harus diungkap. Siapa pemodal yang mempekerjakan mereka. Tidak adil jika hanya para penebang yang dihukum. Sedangkan pemodal atau penadah kayu curian lolos dari jerat hukum,” tegas Rosek seperti dilansir beberapa media.

Bukan hanya pembalakan liar yang menyebabkan hutan-hutan lindung di Malang Selatan kondisi semakin memprihatinkan dan mengalami kerusakan setiap tahunnya. 

Alih fungsi lahan pun menjadi pemicu cepatnya hutan lindung rusak parah.

Telah menjadi pemandangan biasa kalau kita melewati hutan-hutan di Malang Selatan yang dipenuhi pohon pisang. 

Bukan pohon-pohon keras yang seharusnya tumbuh. 

Bahkan, dulu Rendra Kresna Bupati Malang non aktif saat ini, pernah menyampaikan kondisi tersebut kepada media.

Dirinya mengatakan, tidak perlu pemerintah Kabupaten Malang menutupi kondisi hutan yang rusak parah itu. 

Penebangan liar yang mengakibatkan hutan-hutan menjadi gundul dan beralih fungsi, menjadikan wilayah Malang Selatan langganan banjir dan longsor.

Misalnya, di Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo dan Desa Siatiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. 

Profauna  pun meminta agar pemerintah bersikap tegas terhadap para aktor pembalak liar. Serta berusaha keras mengembalikan kondisi serta fungsi hutan. 

Top