Menristekdikti Mohamad Nasir di UB. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Menristekdikti Mohamad Nasir di UB. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Tahun 2022, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan TinggiĀ (Kemristekdikti) akan membuat skema untuk program KIP Kuliah. Program ini adalah program pemberian beasiswa kepada mahasiswa yang tidak mampu dengan anggaran mencapai 20 persen.

Hal ini dinyatakan oleh Menteri Ristek Dikti Prof. Mohamad Nasir, PhD.,Ak saat ditemui dalam kuliah umum kepada mahasiswa Bidikmisi UB, Rabu (27/3) di gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya (UB).

Selama ini, negara baru mampu memberikan beasiswa perguruan tinggi negeri sekitar 10 persen. Sedangkan perguruan tinggi swasta sekitar 8 persen. Padahal, undang-undang mengamanatkan besaran beasiswa yang harus dikeluarkan negara minimal 20 persen.

Untuk itu Nasir mengusulkan kepada Presiden Jokowi untuk mengcover beasiswa tersebut hingga 20 persen.

"Saya mengusulkan kepada presiden ini harus bisa dicover sampai 20 persen sesuai dengan undang-undang," ujarnya saat diwawancara.

Lebih lanjut ia menjelaskan undang-undang nomor 12 tahun 2012 yang mengamanatkan bahwa Perguruan Tinggi Negeri minimal mendapat 20% bantuan untuk anak-anak yang secara ekonomi tidak beruntung.

Selama ini, Kemenristekdikti sendiri sudah memberikan beasiswa melalui bidikmisi, Peningkatan Prestasi AkademikĀ (PPA), maupun Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik).

Untuk itu, program baru KIP Kuliah akan dimunculkan dengan tujuan supaya anak Indonesia yang secara ekonomi tidak beruntung bisa terjangkau dibanding yang saat ini.

"Nanti skemanya baru kita bicarakan dengan menteri keuangan," tandasnya.

Skema yang diajukan nanti ada 3. Pertama, apakah nanti hanya SPP saja. Tentunya dengan atau prestasi akademik. Kedua, SPP dengan biaya hidup seperti halnya bidikmisi. Ketiga, hanya SPP plus biaya buku.

"Ini 3 skema yang kita ajukan. Kami berharap SPP atau UKT plus biaya hidup kuliah. Jadi seperti Bidikmisi. Kalau itu sama dengan Bidikmisi kami butuh anggaran sekitar Rp 5,5 triliun atau sampai di angka Rp 11 triliun ke depan," ungkapnya.

Total mahasiswa calon penerima sendiri menurut Nasir sekitar 450 ribu, baik dari bidik misi PPA maupun ADik.

"Ini nanti kalau bisa ditingkatkan itu berarti kami bisa 900 ribu mahasiswa bahkan kalau bisa ke 1 juta mahasiswa," imbuhnya.

Sedangkan, untuk mahasiswa luar negeri, bantuan ini akan diberikan khusus untuk S2 dan S3.