Helen Storyna Rifa'i, caleg DPRD Provinsi Jawa Timur Dapil Malang Raya Nomor Urut 9 dari Partai Perindo (Pipit Anggraeni/MalangTIMES)
Helen Storyna Rifa'i, caleg DPRD Provinsi Jawa Timur Dapil Malang Raya Nomor Urut 9 dari Partai Perindo (Pipit Anggraeni/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Nama Helen Storyna Rifa'i tentu sudah tak asing bagi sebagian besar warga Jawa Timur dan Malang Raya. Karena sejak beberapa bulan terkahir, foto dan namanya itu sudah banyak menghiasi beberapa kawasan sebagai Calon Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Dapil Malang Raya, nomor urut 9 dari Partai Persatuan Indonesia atau yang dikenal Perindo.

Helen yang notabene bukan dari keluarga Partai Politik memang sedikit menarik penasaran banyak kalangan, tentang siapa sebenarnya sosok Helen tersebut. Terlebih, saat melihat gaya kampanyenya yang tak biasa, semakin membuat banyak orang ingin tahu.

Menariknya lagi, Helen dalam poster dan foto yang banyak beredar itu tampak sebagai sosok perempuan muda yang penuh energik. Posternya pun dibuat lebih sederhana, dengan bergaya layaknya anak muda yang gemar berfoto pada umumnya.

Menjawab rasa penasaran itu, MalangTIMES pun mencoba bertemu langsung dengan alumnus Binus University itu. Setelah sekian lama membuat janji, akhirnya pertemuan dengan politisi muda itu terlaksana di salah satu cafe di Kota Malang, Senin (25/3/2019) sore.

Kenakan kemeja putih dan rambut terikat tinggi, Helen yang saat itu didampingi sang paman menyapa MalangTIMES yang datang. Perbincangan ringan pun berlangsung sekitar kurang lebih satu jam setengah. Di tengah perbincangan itu, sesekali ia menceritakan perjalanannya hingga akhirnya mantab menjadi calon legislatif (caleg).

"Aku dulu nggak ngerti politik. Karena punya temen deket yang duduk di kursi dewan, jadi akhirnya sering diajak terjun ke masyarakat, dan banyak mendapat pengalaman baru dari sana," katanya membuka obrolan serius tentang pencalonannya sebagai anggota legislatif di Provinsi Jawa Timur.

Sebagai salah satu caleg muda, Helen merasa sama sekali tidak pesimis dengan langkah yang ia ambil. Dipandang sebelah mata, baginya bukan menjadi sebuah alasan untuk ia mengurungkan niat sebagai anggota legislatif.

Sederet pengalaman yang ia dapat saat mencalonkan diri pun ia nilai menjadi sebuah proses belajar. Di mana tangga demi tangga kehidupan harus dilewati untuk mendapat apa yang diinginkan. Termasuk saat ia memutuskan untuk berhenti dari karirnya dan meninggalkan kursi empuk di kantor serta gaji yang tak kecil.

Keputusan itu ia anggap sebagai langkah yang terbaik. Baginya berkarya untuk membahagiakan diri sendiri dan keluarga adalah impian semua orang. Tapi membuat diri sendiri bermanfaat bagi orang lain dan masyarakat menjadi sebuah tantangan, dan panggilan jiwa.

"Banyak juga yang awalnya bilang politik itu nggak baik. Saya ingin terjun, dan menunjukkan bahwa politik tak seburuk itu," ucapnya.

Sembari menyeruput minuman segar yang dipesan, ia bercerita jika awal mula ketertarikannya untuk duduk di kursi legislatif adalah ketika ia turut terjun langsung bersama rekannya berbaur dengan masyarakat. Dari situ ia melihat gerbang baru, di mana hidup itu tidak hanya tentang ia dan orang di dekatnya saja.

Rasa kaget sempat ia rasakan saat pertama kali turut menyapa warga bersama temannya yang seorang anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta. Dari sana ia merasa bahwa banyak yang harus dibenahi dari negeri ini. Karena ketimpangan masih terjadi di mana-mana.

"Dan waktu di kantor dulu, saya pun banyak berbaur dengan rekan-rekan, utamanya yang memang bekerja dengan cara merantau dengan gaji yang di bawah saya," imbuh Helen.

Berbincang dengan berbagai elemen masyarakat, ia pun sadar bahwa ada banyak permasalahan di negeri ini. Ketimpangan ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan yang ia nilai butuh mendapat sentuhan baru.

Gayung bersambut, di tengah kegelisahannya mencari cara untuk bisa beanfaat bagi masyarakat, ia pun dipertemukan dengan beberapa politisi. Hingga akhirnya ia memilih berlabuh di Perindo, lantaran merasa pas dengan visi dan misi partai yang kental akan perpaduan warna biru, merah, dan putih itu.

"Saya pun memutuskan mendaftar sebagai caleg Perindo. Meski ada banyak partai lain yang mendekati, tapi saya lebih cocok dengan Perindo," jelasnya.

Sebagai kader, menurutnya ada banyak kegiatan yang sudah ia ikuti bersama Perindo. Di antaranya terjun langsung memberikan sosialisasi kepada masyarakat untuk menjadi ibu rumah tangga sekaligus pengusaha UMKM, hingga melakukan fogging.

Beberapa kali pun ia mengalami cerita lucu saat berkampanye dan terjun ke lapangan saat berbaur dengan masyarakat. Salah satunya saat ia diminta menjadi calon menantu beberapa ibu-ibu yang ia datangi.

"Ada saja cerita lucu, sering saya di geret diajak ke rumah ibu-ibu untuk dikenalkan ke anak laki-lakinya dan dijadikan mantu," kenangnya sembari tertawa lepas.

Di luar pengalaman lucunya itu, saat berbincang dari hati ke hati dengan masyarakat ia menemui banyak hal baru. Tak sedikit warga yang mengeluh tentang kondisi perekonomian hingga pendidikan yang dienyam anak-anaknya. "Tak jarang, saya ketemu anak-anak malas sekolah, padahal mereka dari keluarga berada," terang perempuan berambut panjang itu.

Saat berkampanye, ia pun memilih untuk tidak sekedar menyampaikan program yang akan ia bawa saat terpilih nanti. Tapi juga coba mencerna setiap permasalahan yang dihadapi masyarakat. Karena ia menilai setiap orang pasti hadir dengan masalahnya yang berbeda, tentu dengan penyelesaian yang tak sama pula. "Berbicara dari hati ke hati itu jauh lebih efektif dan saya bisa tahu apa yang dirasakan masyarakat," paparnya.

Dengan usia yang masih muda, perempuan kelahiran tahun 1992 itu merasa jika perjuangan sudah harus dimulai sejak sekarang. Karena ada banyak nilai plus yang dimiliki oleh seorang caleg muda. "Energi seorang pemuda dengan ide-idenya saya rasa harus disuarakan untuk rakyat. Itu sebabnya saya mantab untuk maju sebagai caleg. Saya siap, harus menang ataupun kalah dalam pemilihan nanti," pungkasnya.