Quraish Shihab di UIN Malang : dalam Agama Ada Budaya, dalam Budaya Ada Agama

MALANGTIMES - Ada pengaruh budaya dalam memahami Al-Qur'an. 

Hal ini ditegaskan  Cendekiawan Muslim Indonesia Prof Muhammad Quraish Shihab dalam Special Event Focus Group Discussion UIN Maulana Malik Ibrahim "Al-Qur'an dan Kaderisasi Calon Ulama" bersama M Quraish Shihab di Gedung Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim, Selasa (26/3).

"Ada pengaruh budaya dalam memahami Al-Qur'an kecenderungan setiap orang. Dan semua bisa benar dan bisa salah," ujarnya.

Selama ini, di masyarakat kita ada yang berkata bahwa kita tidak boleh memahami Al-Qur'an kecuali sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat Arab dulu. 

Quraish sendiri menolak hal itu. Ia menegaskan, harus ada pengaruh budaya dalam agama.

"Dalam agama ada budaya, dalam budaya ada agama," tandasnya.

Quraish memberi contoh mengenai pendapat bahwa musafir yang diperbolehkan untuk melakukan tayamum. 

Menurut mantan Menteri Agama tersebut, hal itu merupakan hasil dari pemikiran.

"Itu hasil pemikiran. Bukan teks keagamaan, tetapi sudah masuk ke dalam budaya. Budaya ini masuk ke agama," jelasnya.

Contoh yang bisa ditemukan di Indonesia yakni mengenai zakat. Selama ini zakat fitrah di Indonesia diharuskan dengan beras. 

Tentunya berbeda dengan zakat di Irak atau di negara-negara timur tengah lain. Hal ini juga dipengaruhi perbedaan budaya.

"Jadi di dalam agama ada budaya. Mestinya dalam budaya juga ada agama," tegasnya sekali lagi.

Dengan demikian, rincian ajaran agama tentu berbeda-beda. 

Islam hanya satu prinsipnya, tetapi rinciannya, menurut Quraish, berbeda-beda.

"Islam datang menemui masyarakat Arab. Terus dia bertindak menyebar ke Mesir, ke Iraq, dan lain-lain. Ini semua ada budayanya," ungkapnya.

Islam, menurut pria berkacamata ini, begitu kuat sehingga sebagian produk budaya masyarakat diubahnya. 

Contohnya Mesir yang sudah tidak menggunakan bahasa Mesir, melainkan sudah menggunakan bahasa Arab.

Sedangkan bahasa di Indonesia tidak berubah. Bahasa kita tidak menjadi bahasa Arab. 

Namun, sekian banyak kosa kata bahasa Arab masuk ke dalam bahasa Indonesia.

"Jadi budaya kita juga butuh," pungkasnya.

Top