Dua pengunjung Cafe Mie Kudusan di Mall Olympic Garden (MOG) Kota Malang memilih membawa sendiri sedotan berbahan stainless dari rumah (Foto : Yogi Iqbal/MalangTIMES)

Dua pengunjung Cafe Mie Kudusan di Mall Olympic Garden (MOG) Kota Malang memilih membawa sendiri sedotan berbahan stainless dari rumah (Foto : Yogi Iqbal/MalangTIMES)



Berantas Sampah Plastik dari Malang  5

MALANGTIMES - Gerakan pengurangan penggunaan sedotan plastik kini sudah mulai terdengar di mana-mana. Namun masyarakat tentu masih perlu membiasakan diri tanpa sedotan.

Meski begitu, banyak yang mendukung gerakan ini. Mengingat bahaya limbah sedotan plastik yang merusak lingkungan.

Sedotan plastik mengandung Polypropylene merupakan bahan yang tidak dapat dicerna oleh bumi dan didesain untuk tahan seumur hidup sehingga butuh waktu yang sangat lama untuk dapat hancur dan terurai.

Sekitar 500 hingga 1.000 tahun. Mikroplastik yang terkandung di dalamnya juga dapat mempengaruhi kesehatan manusia dan menimbulkan penyakit.

Untuk diketahui, sejumlah hotel di Malang dan Batu sudah bergabung dalam campaign #byesedotanplastik. Hotel-hotel tersebut antara lain Savana Hotel & Convention, THE 101 Hotel Malang OJ, Bluebells Express Syariah Hotel, Ijen Suites Resort & Convention, Ollino Garden Hotel, Hotel Aria Gajayana, Amartha Hills Hotel & Resort, dan Zam Zam Hotel & Convention. Mereka tidak lagi menyediakan sedotan plastik dalam minuman mereka.

Tidak hanya hotel, sejumlah resto dan cafe di Malang dan Batu pun juga ikut dalam gerakan pengurangan sedotan plastik ini. Mereka juga turut serta dalam campaign #byesedotanplastik yang diinisiasi CCFrontier.

Beberapa di antara resto dan cafe itu antara lain Lalapan Aneka Sambal (LAS), Mie Kudusan, HOTPAN House of Teppanyaki, Pilozz Kopi Alas, Seulawah Resort and Cafe, dan Pupuk Bawang Cafe & Dining. Mereka tidak lagi menyediakan sedotan plastik kecuali by request atau jika tamu meminta.

Pengunjung hotel, resto, dan kafe pun perlu membiasakan diri dengan kebijakan ini. Meski begitu, kebanyakan menyadari bahaya sedotan plastik.

Salah satu pengunjung resto Mie Kudusan menyatakan setuju dengan upaya penyelamatan lingkungan ini.

"Ya setuju-setuju aja. Soalnya untuk mengurangi sampah plastik biar ke depannya kita bisa hidup sehat," ujar Lis, pelanggan Mie Kudusan.

Pelanggan lain menyatakan pengurangan sedotan plastik merupakan upaya paling dasar yang bisa dilakukan dalam penyelamatan lingkungan.

"Saya setuju sama pengurangan penggunaan sedotan plastik karena sedotan plastik yang paling dasar, yang paling gampang kita lakukan sebagai anak muda yang sering ngafe," ujar pelanggan Mie Kudusan Kharisma Ilmiatin Taqwim.

Kharisma menyatakan bahwa dia sangat setuju tatkala tahu bahwa di Mie Kudusan sudah tidak lagi memakai sedotan plastik. Bahkan dia kini memiliki sedotan stainless.

"Kalau sedotan stainless kan kita dapet sesikatnya itu. Jadi kalau ngebersiin pakai sikat, nyucinya gampang. Terus kalau stainless enaknya bisa dipakainya lama," jelas owner sedotan stainless @khatintaq_gizmo ini.

Pelanggan Pupuk Bawang Cafe & Dining menyatakan sedotan plastik malah harusnya dihilangkan. Mengingat dampaknya yang buruk terhadap lingkungan dan terhadap kesehatan.

"Plastik kan daur ulangnya susah. Kalau dipakai berulang-ulang juga gak bagus, pasti dipakai sebentar buang. Kalau saya sih memang sudah saatnya dikurangi, kalau perlu dihilangkan. Apalagi kalau minum panas pakai sedotan nggak bagus rasanya. Bisa leleh juga (sedotannya)," ujar Sumardi, pelanggan Pupuk Bawang asal Surabaya.

Tamu hotel juga kebanyakan memiliki pendapat yang sama dan mendukung gerakan pengurangan sedotan plastik ini.

"Pengurangan sedotan plastik baik karena setahu saya plastik susah untuk didaur ulang. Jadi sebenarnya kalau dilarang bagus," ungkap Nuril, salah satu tamu Amartha Hills Hotel & Resort.

Namun, apabila pertama kali mendapati campaign ini di hotel-hotel, tentu wajar apabila merasa kaget. Seperti yang dirasakan oleh ibu-ibu sosialita yang mengunjungi THE 101 Malang OJ.

"Pertama bingung memang karena kebiasaan pake sedotan terus enggak pakek jadi bingung. Tapi ya mendukung karena untuk kesehatan jangka panjang kita dan anak cucu kita," ujar Yeni yang tergabung dalam Grup Syantik Pasuruan-Malang.

End of content

No more pages to load