Founder CCF Eko Baskoro (Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Founder CCF Eko Baskoro (Imarotul Izzah/MalangTIMES)



Berantas Sampah Plastik dari Malang  2

MALANGTIMES - Kita pasti kerap mendengar slogan Save Our Earth yang digaungkan di mana-mana. Namun, bagi sebagian orang, Save Our Earth adalah hal yang terlalu besar dan mustahil untuk dilakukan. Namun, bukan berarti tidak ada hal yang tidak dapat kita lakukan.

Salah satu lembaga yang menaruh perhatian pada lingkungan dan kemanusiaan yakni Climate Change Frontier (CCFrontier atau CCF) juga melakukan penyelamatan bumi dengan konsep yang berbeda. CCFrontier fokus mengubah perilaku dan kebiasaan masyarakat terhadap lingkungan sekitar.

Cara sederhana yang dilakukan CCFrontier yakni dengan pengurangan penggunaan sedotan plastik melalui campaign #byesedotanplastik.

Campaign #bysedotanplastik dilaksanakan pertama kali tanggal 15 Februari 2019. Tujuannya untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik di hotel, cafe dan resto.

Jadi, mereka tidak lagi menyediakan sedotan plastik kecuali by request atau jika tamu meminta.

Gerakan ini mulai masif digaungkan di Indonesia. Salah satunya digencarkan di Kota Malang.  

Yang CCFrontier lakukan sederhana, yakni dengan mengimbau dan mengajak mereka untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik.

Campaign ini sudah ada di Malang dan akan dilakukan secara berkelanjutan dan berpindah dari satu kota ke kota yang lain. Target akhir CCFrontier adalah larangan sedotan plastik di tahun 2020.

Awal langkahnya yakni pada bulan Januari sampai Februari, CCFrontier bergerak dengan membagikan sedotan bambu di Car Free Day (CFD) Malang, Surabaya, hingga Bandung.

"Kemudian masuk Februari akhirnya kita memutuskan untuk tidak hanya sakadar membagi sedotan bambu saja. Kita canangkan pada saat itu tanggal 15 Februari kita lakukan yang namanya campaign bye sedotan plastik," ujar Founder CCF Eko Baskoro saat ditemui di Savana Hotel Selasa malam, (20/3).

Campaign ini sendiri ditujukan ke hotel, cafe, dan resto dengan alasan di tempat-tempat inilah pusat sampah sedotan plastik yang paling banyak.

Saat ini, sudah ada 38 partisipan yang bergabung dengan CCF yang terdiri atas 15 hotel, 14 cafe dan resto, sisanya yakni perusahaan-perusahaan dan 5 sekolah.

"Selama satu tahun kita fokus ke campaign bye sedotan plastik dengan tujuan akhir nanti tahun 2020 larangan penggunaan sedotan plastik," tandas Baskoro.

Untuk itu, tujuan dari campaign ini sendiri ialah pemerintah daerah. Hanya saja, Baskoro dan timnya menyadari bahwa ia tak bisa datang ke pemerintah dengan membawa konsep saja.

"Makanya kita membuktikan dan keliling dulu, mengajak banyak hotel, cafe, dan resto. Begitu kita anggap ini cukup ini baru kita bawa ke pemerintah daerah bahwasanya sudah banyak partisipan yang memang peduli sebenarnya untuk mengurangi sedotan plastik," ungkapnya.

Nah, data awal yang sudah CCFrontier kumpulkan yakni pihak hotel, cafe, dan resto yang bergabung sudah dapat mengurangi sampah sedotan plastik sampai 40 persen.

"Uniknya mereka yang tetap meminta sedotan plastik rata-rata yang berumur di bawah 40 tahun. Sedangkan di atas 40 tahun umumnya menerima tanpa adanya sedotan plastik," terang Baskoro.

Untuk diketahui, awal berdirinya CCF yakni pada tanggal 13 Juli 2015, berangkat dari sebuah kekhawatiran atas dampak perubahan iklim secara global dengan nama Climate Change Festival. Sehingga “Stop Climate Change” dijadikan sebagai dasar tujuan CCFestival.

"Di awal itu terinspirasi karena perubahan iklim global. Tujuan kita saat itu hanya satu, mengatasi perubahan iklim saja," ujar Baskoro.

Dalam melakukan kampanye atau menyuarakan terkait dampak perubahan iklim secara damai, CCFestival menggunakan media entertainment seperti Disc Jokey (DJ), musik, dan lain-lain.

Atas beberapa pertimbangan, Climate Change Festival berubah nama menjadi Climate Change Frontier atau CCFrontier pada tanggal 13 Juli 2016 dengan tujuan yang diperluas yaitu Concerned to nature Protection and Humanity.

CCFrontier di Asia selain di Indonesia yakni CCFrontier Hong Kong, CCFrontier Malaysia,dan CCFrontier Thailand.

"Waktu itu ada sedikit protes dari beberapa orang karena tidak efektif sehingga tahun 2016 mengubah semuanya yang awalnya Climate Change Festival kemudian berubah menjadi Climate Change Fortier dengan tujuan diperluas untuk peduli terhadap lingkungan dan kemanusiaan," papar Baskoro.

Banyak aksi yang sudah dilakukan CCF secara langsung, seperti tanam pohon; pembagian totebag secara gratis kepada masyarakat sebagai pengganti tas plastik; bersih sungai; kampanye di cafe, resto, kampus terkait dampak perubahan iklim.

"Kalau dari sisi kemanusiaan, andai kata ada gempa atau apapun segala macam kita turun membantu. Salah satu organisasi yang kita gandeng yaitu Aksi Cepat Tanggap sampai kita dapat penghargaan piagam kemanusiaan tahun kemarin," pungkasnya.

End of content

No more pages to load