Diwi Cahyono, arkeolog UM, saat memberikan materi tentang topeng kepada pemerhati budaya dan para remaja. (Luqmanul Hakim/Malang Times)

Diwi Cahyono, arkeolog UM, saat memberikan materi tentang topeng kepada pemerhati budaya dan para remaja. (Luqmanul Hakim/Malang Times)



MALANGTIMES - Masih minim wawasan yang dimiliki seniman ukir, khususnya seniman ukir pembuat topeng di Malang. Hal itu yang membuat  Yudit Perdanato, ketua Singgasana Budaya Nusantara, mengajak para seniman ukir pembuat topeng di Malang Raya menambah wawasan tentang topeng di Warung Budaya Sawojajar (24/3).

Kegiatan tersebut dia agendakan karena  melihat perkembangan seni ukir topeng klasik saat ini sudah terhenti. Menurut Yudit, perkembangan dalam pembuatan topeng klasik  stagnan pada pakem yang sudah ada. Hal tersebut dikarenakan para seniman ukir pembuat topeng masih jarang membuat terobosan dalam hal pembuatan topeng model lain.

"Perkembangan topeng klasik saat ini sudah terhenti. Di klasik itu ada pakem atau patokannya. Selama ini jarang seniman ukir yang membuat terobosan untuk pengayaan tradisi dengan membuat topeng  model lain" ujar Yudit.

Ia juga menuturkan bahwa kesenian topeng Malangan dan para seniman ukir pembuat topeng di Malang membutuhkan perhatian dari pemerintah dan masyarakat Malang. Hal tersebut juga disampaikan oleh arkeolog UM Dwi Cahyono sebagai pemateri dalam workshop Ngaji Ukir Era Singosari dan Majapahit.

Menurut Dwi, pemerintah daerah masih minim dalam memberikan perhatian terhadap seni budaya yang ada di daerahnya tersebut. Ia menuturkan bahwa ada hal tertentu yang saat ini sempat terlewatkan.

Hal tersebut merupakan perhatian terhadap pelaku budaya yang sudah tak sanggup untuk mengisi dalam artian kekurangan personel untuk lakon yang hampir punah seperti lakon topeng Menak dan openg Purwa. Apalagi pemerintah daerah dia katakan masih belum berpikir lebih jauh ke arah penyelamatan tersebut.

"Pemda tidak berpikir jauh ke sana. Akhirnya teman-teman sendirilah yang berpikir seperti itu. Semoga pemikiran tersebut ada sambutan dari pemerintah. Jika tidak, tak masalah. Yang penting di akar rumput terus bergerak dan lebih menggembirakan," papar Dwi Cahyono kepada Malang Times.

Dwi melanjutkan bahwa akar rumput yang ia maksudkan adalah para kalangan remaja yang sanggup untuk meneruskan untuk penyelamatan lakon yang hampir punah atau bahkan sudah punah tersebut. Ia juga mengatakan bahwa perlu adanya pelestarian topeng kreasi dan juga pengembangan topeng tradisi kreasi.

Dwi Cahyono berharap nantinya kesenian topeng yang ada di Malang tersebut akan ditopang bersama oleh semua kalangan. Dengan begitu, ia berharap nantinya semua lakon akan terselamatkan dari kepunahan dan mendapat dukungan dari tiga pemerintah yang ada di Malang Raya.

End of content

No more pages to load