MALANGTIMES - Percakapan Kecil di Bulan Maret (1)

* dd nana

- Sudahi saja basa basi ini--

Darah kita garam lautan. Ditempa tangan cuaca dan do'a yang diseret alir waktu menuju raga-raga yang dikilapkan cahaya matahari.

Maka, tak malu aku katakan, gelap adalah karib kita. Sebelum cahaya-cahaya buatan datang. Menyodorkan warna asing tentang basa basi.

Kalimat-kalimat dari bibir yang penuh, merah, serupa gincu para pelacur di seberang waktu.
"Gelap harus dilawan karena itu mengundang setan."

"Jangan biarkan setan menguasainya. Maka nyalakan cahaya. Isi matamu dengan api dan mulutmu penuhi dengan ayat-ayat."

Seorang karib menghentikan jalanya. Diam menatap mataku. Ikan di lautan sudah mulai mengungsi dan tangan kita semakin kusut, keriput ditinggal daya.

"Apa kita butuh cahaya itu ? Apa perlu kita ikuti kata-kata mereka yang bergelimang cahaya. Gelap kita benarkah hasil karya para setan yang mereka kutuk?".

Seorang karib mencari ruang letih. Sambil menggapai-gapai sesuatu yang disodorkan orang-orang yang mencipta cahaya. Darahnya menguap oleh mantra-mantra asing. Disucikan dengan percik kata-kata.

Padahal dulu kita percaya pada ucapan samudera yang membawa kristal-kristal putih di pesisir. Dierami gelap tanah sebelum menjelma darah yang mengalir di raga-raga kita.
"Haruskah kita hijrah, Bulung?"

Di mimpiku, aku melihat karib-karibku bercerai berai, pecah di lautan cahaya. 

Mencari kebenaran yang dimiliki mereka, orang-orang yang datang menunggangi cahaya. Dan dibelakang cahaya mereka menghitung lembaran uang.

Sedang samudera semakin sunyi. Serta menjadi sarang-sarang perompak yang datang menunggangi cahaya.

Darah kita garam lautan yang kini ditukar dengan garam buatan.

-Bisa kita hentikan basi basi ini, tuan?-

Percakapan Kecil di Bulan Maret (2)

- Merawat buah syahwat-

Dia percaya. Ada taman yang akan menggantikan bayang-bayang. Lahir dari kecemasan yang menggigilkan gelap di raganya. Dia percaya.
Karena, sejarah telah dituliskan dan akan kembali datang.

Maka, dirawatlah sebiji zarah dari buah yang pernah dititipkan seorang lelaki. Yang dibungkus dengan kain putih tanpa tanda. 

Sehingga pernah rindu tersesat di kegelapan dan akhirnya Tuhan menciptakan sebuah gunung.

Dia percaya. Biji buah dari lelaki pertamanya yang akan menjadi obat di senja yang mulai mengecup matanya. 

Di beranda rumah, dengan angin Maret yang basah. Akan menggenapkan kisahnya.

Dia percaya. Seperti aku yang terus menunggu. Kelak, semua akan dipertemukan di taman yang dijanjikan.
-Mari Berjanji-
Mari berjanji. Untuk saling mencintai walau kisah terlanjur ditulis tanpa kehendak rindu.
"Bukankah sakit yang membuat kita semakin Kudus ?".

*hanya penikmat kopi lokal