Salah satu struktur situs Sekaran yang sudah diekskavasi.
Salah satu struktur situs Sekaran yang sudah diekskavasi.

MALANGTIMES - Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur mengakhiri proses ekskavasi situs purbakala Sekaran yang ditemukan di lokasi proyek jalan tol Malang-Pandaan di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, pada Jumat (21/3/2019). Temuan situs tersebut dituturkan, menurut arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho,  diduga merupakan bangunan suci masa pra-Majapahit, bahkan pada masa Kerajaan Singosari atau Kerajaan Kediri.

Dari struktur bata yang ditemukan di lokasi tersebut, Wicaksono memperkirakan  sebuah kompleks bangunan suci dengan permukiman penduduk yang mengelilinginya. "Merujuk dari pura dan puri, semacam sebuah keraton," ujarnya.

Dia membeberkan terdapat struktur yang membentuk seperti dinding pembatas di bagian tengah kompleks situs tersebut. Sehingga, ia memperkirakan  bahwa bangunan suci yang ditemukan tersebut mempunyai suatu ruang yang dibatasi sebuah dinding. Selain itu, kompleks tersebut dulunya dibangun secara klaster yang meluas sampai ke arah selatan.

Arah bangunan  situs tersebut menghadap ke arah timur, ke Gunung Semeru. Situs tersebut terletak di dekat Sungai Amprong yang ia sebut membelah Malang. 

Wicaksono  juga mengatakan bahwa di bagian tengah situs tersebut perlu tindakan penyingkapan lebih lanjut untuk meneliti struktur dan kondisi bangunan aslinya. Penelitian lebih lanjut akan dilakukan dilakukan di Balai Arkeologi Yogyakarta.

Sementara itu, terkait  rusaknya bangunan tersebut, Wicaksono memperkirakan karena sengaja ditinggal karena adanya pergantian kerajaan sebelum akhirnya tertimbun tanah. Dari keterangan yang didapat, ia juga menuturkan bahwa tahun 1970 - 1980 lalu banyak warga setempat yang mengambil dan menggunakan bata merah dari reruntuhan tersebut untuk bahan bangunan dan sisanya untuk lahan pertanian. Apalagi, ia menemukan terdapat struktur yang terguling karena terkena alat pembajak sawah.

"Ada struktur yang terguling. Penyebabnya karena terkena alat pembajak sawah," ungkap Wicaksono.

Selama proses ekskavasi yang dilakukan 10 hari kemarin, ia mengatakan bahwa luas situs tersebut sudah mencapai 1.700 meter persegi. Kemudian, PT Jasa Marga Tol Mapan juga akan membuat parit di sekeliling temuan situs tersebut serta membangun atap untuk menghindarkan situs dari hujan dan terik matahari. Pembuatan parit tersebut dilakukan dengan backhoe yang membersihkan sisa tanah, kemudian diangkat dan pembuatan parit agar air tidak menggenangi situs.

Untuk penjagaannya sendiri, Wicaksono mengatakam sudah serahkan ke Pemdes Sekarpuro yang diawasi langsung oleh Disbudpar Kabupaten Malang dan Dinas Dikbud Jawa Timur.

Sementara, data yang didapat tersebut akan dikoordinasikan dengan Jasa Marga dan akan dibahas dalam pertemuan di Jakarta. Data tersebut akan disajikan kepada pemerintah melalui drijen kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Nantinya Kemendikbud bersama  Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang  akan memutuskan kelanjutan proyek tol dan pelestarian situs Sekaran tersebut.