MALANGTIMES - Sekolah Sungai yang diusung pemerintah dalam upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat yang berdomisili di pinggiran sungai, menjadi relevan untuk terus dilaksanakan di Kabupaten Malang.

Pasalnya, sebagai wilayah dengan jumlah sungai besar di Jawa Timur (Jatim) serta masuk dalam wilayah merah banjir dan longsor dikarenakan topografi-nya, masyarakat Kabupaten Malang membutuhkan keahlian khusus sekaligus pendorong kesadaran terhadap potensi wilayah yang ditempatinya.

Sayangnya, di tahun 2019, Sekolah Sungai tidak hadir di Kabupaten Malang. Hal ini secara langsung disampaikan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Bambang Istiawan.

"Tahun ini tidak ada. Ini kan program pusat jadi mereka yang menentukan lokasi kegiatannya," kata Bambang kepada MalangTIMES, Kamis (21/03/2019).

Dinas Lingkungan Hidup yang pernah memaparkan kondisi sungai di wilayah Kabupaten Malang, mengalami persoalan serius. Baik karena pendangkalan sampai pada cemaran limbah domestik, menurut Bambang, memang masih membutuhkan upaya terus menerus dalam menumbuhkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terkait pengelolaan sungai.

"Tentunya kita masih butuh program seperti Sekolah Sungai. Tapi, sekali lagi itu program pusat. Jadi, untuk melanjutkannya kita kuatkan masyarakat dengan program yang kita miliki," ujar Bambang.

Selain hal tersebut, lanjut mantan Kepala Satpol PP Kabupaten Malang ini, teori kebutuhan menjadi ruang dalam menguatkan kesadaran masyarakat berhadapan dengan kondisi sungai di wilayahnya.

Teori kebutuhan, walau dikesankan lebih dikarenakan adanya sesuatu yang tidak bisa dihindari, tapi akan lebih efektif dalam persoalan sungai di wilayah Kabupaten Malang. Misalnya, kebutuhan warga terhadap sungai yang bersih serta tidak menimbulkan banjir atau mengalami kekeringan di musim kemarau. 

Mereka menjaganya secara swadaya. Tidak buang sampah ke sungai, BAB, sampai melakukan kegiatan bersih-bersih sungai, misalnya," urai Bambang memberikan contoh kecil.

Teori kebutuhan dalam menjaga dan mengantisipasi bencana alam, baik banjir maupun longsor, telah berjalan di lingkup warga Kabupaten Malang. Walaupun masih dalam skala kecil. Bambang menyampaikan, penerapan teori kebutuhan malah lahir di wilayah-wilayah perkotaan, terutama di wilayah perumahan.

"Ini sudah berjalan, dan cukup menggembirakan dalam mendukung gerakan dari BPBD sendiri. Walau skalanya masih kecil, tapi sudah tumbuh kesadaran warga terkait lingkungan sekitarnya," pungkasnya.