Babak Baru Prahara Satu Atap Dihuni Tiga KK, Satu Laporan Dibalas Dua Laporan

MALANGTIMES - Prahara satu atap yang ditempati oleh tiga KK (kepala keluarga), asal Dusun Bantur Timur, Desa/Kecamatan Bantur, menasuki babak baru. Hal ini menyusul setelah aksi pengeroyokan sekaligus penganiayaan yang dilaporkan oleh korban, menuai tanggapan balik dari pihak terlapor. Yakni dengan cara melaporkan balik korban kepihak kepolisian.

Seperti yang sudah diberitakan, polemik yang terjadi di lingkup keluarga ini bermula saat Suraji (korban) menasehati anaknya dengan cara membentak-bentak. Merasa tidak terima, Tumini (mertua korban) membela cucunya yang saat itu dimarahi oleh Suraji.

Adu mulut antara menantu dan mertua yang sempat tinggal serumah ini pun tak bisa dihindarkan. Adu mulut antara keduanya membuat Toni Suherman (adik ipar Suraji) merasa tidak terima melihat ibu kandungnya diperlakukan semacam itu.

Toni yang saat itu emosional seketika meghajar korban. Dari olah TKP (tempat kejadian perkara) diperoleh keterangan, jika pria 48 tahun tersebut sempat menganiaya korban dengan cara memukul bagian kepala sebanyak dua kali, serta menampar korban sekali.

Konfik yang terjadi dalam satu keluarga ini semakin menjadi-jadi setelah Sularso Andi Wibowo (menantu Toni) juga terlibat baku hantam dalam menghajar korban. Pria yang saat ini berusia 21 tahun itu diketahui menganiaya Suraji dengan cara memukul ke arah wajah dan kepala sebanyak tiga kali.

Ketika dikeroyok, korban akhirnya memutuskan untuk kabur dari lokasi kejadian. Merasa tidak terima, pria yang kini berusia 54 tahun itu memilih untuk melayangkan laporan terhadap keluarganya ke Polsek Bantur.

Mendapat laporan, perugas kepolisian kemudian menindaklanjuti laporan tersebut. Meski sempat menempuh jalur damai dan menghadirkan perangkat desa setempat, kenyataannya proses negosiasi ini berjalan alot. Suraji enggan untuk memilih jalur kekeluargaan. Hingga akhirnya, Toni beserta Sularso ditahan polisi lantaran kasus pengeroyokan dan penganiayaan.

Informasi terkini, salah satu pihak terlapor yakni Toni memilih untuk melaporkan balik korban (Suraji). Dalam berkas laporannya, Toni mengaku jika dirinya yang terlebih dulu mengalami penganiayaan. “Sebelum memukul dia (korban), saya terlebih dulu dicekik oleh Suraji,” terang Toni ketika dimintai keterangan polisi.

Menanggapi serangan balik tersebut, lagi-lagi pihak kepolisian berupaya melakukan mediasi di antara kedua kubu. Namun opsi tersebut seolah diabaikan dan keduanya ngotot agar laporan mereka tetap ditindaklanjuti.

Sebagai informasi, polemik satu atap yang ditempati tiga KK ini memang sudah terjadi sejak lama. Dendam kesumat antar anggota keluarga menemui puncaknya ketika Suraji dan istrinya memilih untuk pisah ranjang. Sekitar lima tahun saat pisah ranjang itulah, Suraji diketahui sama sekali tidak menafkahi istrinya.

Terkait hal ini, sang istri dikabarkan juga bakal melayangkan laporan ke UPPA (Unit Pelayanan Perempuan dan Anak) Polres Malang, atas dugaan penelantaran.

Terpisah, Kapolsek Bantur AKP Yatmo menuturkan,  laporan dari keduanya bakal tetap diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Bahkan berkas keduanya tidak dijadikan satu, alias dipisah.

“Karena tidak mau berdamai, berkas laporan keduanya sudah kami kirim. Nantinya keputusan bakal seperti apa akan kami serahkan kepada hakim di Pengadilan Negeri Kepanjen,” ujar Yatmo kepada MalangTIMES.

Top