MALANGTIMES - Temuan bekas bangunan suci Kerajaan Singosari yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-13 di lokasi proyek pembangunan jalan tol Malang-Pandaan (Mapan) telah membuat banyak kalangan fokus pada proses ekskavasi yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur (Jatim). 

Sayangnya, sebelum semua bisa terungkap terkait bekas bangunan suci tersebut, proses ekskavasi tinggal menyisakan waktu satu hari lagi. Yakni, akan berakhir Kamis (21/03/2019) besok. Ada informasi dari BPCB Jatim bahwa proses ekskavasi tidak akan diperpanjang dikarenakan terkendala anggaran.

Hal ini tentunya akan membuat proses ekskavasi terhenti dan ada kemungkinan peninggalan masa Kerajaan Singosari tersebut tidak tuntas terkuak. 
Kondisi inilah, yang akhirnya membuat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang bersiap mendukung kelanjutan proses ekskavasi, bila pihak BPCB Jatim memang di tahun ini menghentikannya dikarenakan persoalan anggaran.

"Kami siap untuk ambil alih ekskavasi, jika memang BPCB sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkannya," kata Made Arya Wedanthara, kepala Disparbud Kabupaten Malang, Rabu (20/03/2019).

Kesiapan Pemkab Malang dalam meneruskan proses tersebut dilandasi dengan dugaan masih banyaknya peninggalan sejarah yang masih tetap terpendam di dalam tanah. Hal ini terlihat dari proses ekskavasi yang sudah dilakukan serta ditemukannya berbagai peninggalan zaman kerajaan. 

"Ini dimungkinkan ada salah satu lokasi sebagai situs yang perlu dilestarikan. Kami dari pemerintah Kabupaten Malang sangat mendukung,"  ujar Made Arya.

Disinggung anggaran yang akan dipergunakan, Made Arya menyampaikan, pihaknya akan mengajukan anggaran tersebut di siklus APBD perubahan Kabupaten Malang. Sedangkan untuk nominal nantinya, lanjut Made, akan dilakukan koordinasi terlebih dahulu.

"Kita koordinasikan dengan Pak Bupati nanti. Selain tentunya masukan juga dari BPCB terkait kebutuhannya untuk proses ekskavasi lanjutannya. Hasilnya kami ajukan di PAK," urainya.

Situs purbakala yang ditemukan dipastikan merupakan bangunan suci pada masa lalu. Dari struktur sisa-sisa bangunan yang ditemukan, seperti paduraksa atau pintu gerbang di depan mengarah ke Semeru. Hal ini diperkuat dengan temuan lainnya berupa altar tepat di belakang paduraksa. Dengan ukuran yang ditemukan oleh BPCB Jatim 2 x 2 meter (m) serta berjarak sekitar 5 meter di belakang paduraksa.

Dilansir dari Kompas, bangunan suci yang diperkirakan telah ada sebelum Kerajaan Majapahit itu seharusnya memiliki dua paduraksa. Tapi, sampai batas akhir ekskavasi, besok hari, satu paduraksa belum ditemukan.

Kepala BPCB Jatim Andi Muhammad Said yang menyampaikan batas akhir ekskavasi tersebut juga mengatakan, penemuan situs purbakala yang disebut Sekaran karena terletak di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, adalah penemuan paling besar di tahun 2019 ini.

"Bangunan suci di situs Sekaran awalnya megah dan mengalami kehancuran saat Belanda menguasai Malang. Serta lokasi bangunan menjadi permukiman warga. Ditemukannya situs ini layak untuk diselamatkan," ucap Andi yang bersama tim telah melakukan proses ekskavasi selama 8 hari seluas 23 x 23 m.  "Tapi sayangnya proses ekskavasi selesai besok karena anggaran," pungkasnya.