150 Kendaraan Baru Bertambah Setiap Hari, Jalanan Kota Malang Masih Tak Berubah

MALANGTIMES - Menjadi kota termacet ke tiga menjadikan Kota Malang sebagai salah satu kota yang setiap hari selalu sibuk dengan aktivitas di jalanan. Keluhan demi keluhan pun selalu datang, hampir setiap saat berkaitan dengan kemacetan yang tercatat amat parah itu.

Pakar Transportasi ITN Malang, Nusa Sebayang menyebut, masalah kemacetan di Kota Pendidikan ini perlu untuk segera dicarikan jalan keluar. Sehingga pemerintah juga harus memahami sebenarnya akar permasalahan dari kemacetan yang nyatanya memang disebabkan ruas jalan yang pendek dengan luasan yang terbatas.

"Awal kemacetan di Kota Malang biasanya bermula dari titik-titik persimpangan, ada banyak alternatif yang bisa dimanfaatkan. Salah satunya menggunakan fly over atau underpass," terangnya dalam Diskusi Membedah Kemacetan di Kota Malang yang digelar PWI Malang Raya dan ITN, Selasa (19/3/2019).

Menurutnya, cara yang paling tepat untuk mengatasi kemacetan adalah dengan melebarkan jalan. Namun memang hal itu membutuhkan waktu dan tenaga ekstra, karena gak dapat dilakukan seenaknya dan harus memperhatikan setiap batasan yang ada.

Sementara itu, Kabid Angkutan Umum Dinas Perhubungan (Dshub) Kota Malang, Ngadiyono menyampaikan, salah satu faktor penyebab kemacetan adalah bertambahnya kendaraan baru yang jumlahnya memang cukup fantastis.

Di mana dalam studi yang sudah dilakukan, tercatat ada 150 kendaraan baru, baik roda dua atau roda empat yang bertambah setiap harinya. Sementara sampai sekarang, kondisi jalanan masih sama dan belum ada penambahan.

"Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah juga sudah tampak beberapa kawasan perumahan, maka bisa dilihat kasat mata bagaimana perkembangan kendaraan pribadi. Sementara kapasitas jalan hingga saat ini tidak banyak berubah," terang pria yang akrab disapa Oong itu.

Lebih jauh dia menjelaskan jika berbagai upaya sudah dilakukan untuk memecah kemacetan tersebut. Diantaranya dengan mengusulkan ruislag atau tukar guling jalan provinsi dan nasional menjadi jalan kota. Sehingga proses pengaturan lalu lintas lebih mudah dilakukan.

"Selain itu kebutuhan kita adalah jalur lingkar. Karena kendaraan yang masuk kebanyakan dari luar kota. Tol Mapan itu sebenarnya angin segar yang bisa memecah kemacetan dalam kota," imbuh Oong.

Selain itu, upaya lain yang dilakukan menurutnya adalah melakukan kajian mendalam tentang transportasi massal dan angkutan barang. Dengan skema khusus, angkutan umum yang aman dan nyaman diyakini mampu mengurangi jumlah kendaraan pribadi.

Sementara itu, berdasarkan kajian Dishub Kota Malang, untuk mengurai kemacetan langkah yang bisa dilakukan adalah melakukan ruislag agar jalan nasional tak membelah jalan kota. Selanjutnya membuat jalan lingkar timur yang diyakini mampu mengurangi volume jalan hingga 60 persen. 

 

Top