Korupsi Indonesia Stadium 4, Karni Ilyas : Lobi Jabatan Ada Angkanya Dan Jangkiti Instansi Republik

MALANGTIMES - br>Kasus tangkap tangan yang menimpa Ketua PPP Romahurmuziy, Jumat (15/03/2019) lalu oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terus menggelinding. Serta dimungkinkan adanya bukti-bukti baru dalam proses penyidikan KPK.

Walau bukan barang baru mengenai korupsi yang menimpa para politikus di Republik ini. Seperti yang disampaikan oleh Juru Bicara KPK Febri Diansyah, dimana hampir 60 persen kasus yang ditangani KPK terkait sektor politik. "Ada 344 orang yang duduki jabatan politik yang sudah KPK tangani. Korupsi politik memang ada," ucap Febri dalam acara ILC, Selasa (19/03/2019).

60 persen perkara korupsi politik tersebut, menurut Karni Ilyas wartawan senior yang memandu ILC, menyatir pernyataan Prof Alatas dari Malasyia University yang mengatakan, bahwa Indonesia sudah menjelang stadium ke-empat dalam korupsi. Dimana, para koruptor merupakan korban korupsi dari atasan-atasannya di dalam lembaga atau institusi itu sendiri.

"Jadi kalau ini kanker sudah stadium ke-empat kata Prof Alatas. Dimana untuk jadi Kepala Kanwil Kemenag ada angkanya untuk mendapatkan jabatan. Ujungnya yang di bawah juga ikut serta melakukan hal sama. Baik menjual jabatan maupun melalui pelayanan yang diberikannya kepada masyarakat," ujar Karni Ilyas.

Kondisi jual beli jabatan pun dibenarkan oleh M Jasin mantan Irjen Kemenag RI yang menyatakan, bahwa hal tersebut memang terjadi selama dirinya berada di dalam tubuh Kemenag. "Ini terjadi dari Kemenag pusat sampai Kabupaten. Di tahun 2016 jual beli jabatan sudah marak. Apalagi setelah itu, mereka seperti bebas kayak pasar terbuka," ujar M Yasin.

Bukan hanya Kemenag saja yang tertimpa persoalan jual beli jabatan seperti yang diungkapkan para narasumber yang pernah bekerja di Kemenag. Tapi juga melanda di dunia kependidikan. "Konon untuk menjadi rektor pun ada harganya. Bahkan untuk jadi Kepala SD juga ada harganya. Yang kena peras akhirnya kembali anak didik di bawahnya. Jadi koruptor jadi korban korupsi atasannya sendiri," ucap Karni Ilyas yang mengundang juga guru besar dari UIN Malang Prof Dr H Mudjia Rahardjo dalam acara tersebut. 

Di dunia pendidikan, bahkan untuk menjadi rektor kata salah satu narasumber ILC bisa mencapai uang ratusan juta sampai miliar rupiah. Ahmad Yani mantan politikus PPP yang kini berhuni di PBB menyampaikan, bahwa dirinya mengenal Mudjia sebagai rektor yang baik dan pernah berpikir akan kembali memimpin UIN Malang. "Tapi ternyata tidak jadi. Mungkin karena kurang silaturahmi ya. Karena dengan silaturahmi bisa membuka rejeki," ucapnya yang disambut senyum oleh Mudjia dan tawa peserta.

Top