Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah, Seorang Nenek Bertahan Hidup di Gubuk Reot

MALANGTIMES - Suri alias ibu Tolak (75) warga Dusun Cottok, Desa Kayumas, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo tetap bertahan hidup dalam gubuk reot di ladang pinggiran hutan.

Ironisnya, pemerintah desa setempat maupun kecamatan hingga kabupaten tak pernah memberikan bantuan apa pun terhadap nenek renta yang hidup sebatang kara tersebut. Padahal, kondisi rumah kayu yang ditempatinya sudah miring dan nyaris ambruk.

Nenek renta yang mengandalkan makan dari uluran tangan warga sekitarnya dan memakan pucuk-pucuk daun yang ada di sekitar pinggiran hutan tersebut sungguh fenomena yang mengenaskan.

Padahal saat ini pemerintah pusat, provinsi maupun pemerintah daerah sedang gencar-gencarnya menurunkan angka kemiskinan. Namun demikian, Nenek Suri tak pernah tersentuh bantuan apa pun dari pemerintah. Dia bertahan hidup di garis kemiskinan yang amat menyedihkan.

Nenek yang hidup sebatang kara tersebut bermukim di gubuk reot kayu berukuran 4 kali 5 meter ini berada di ladang tepi hutan desa yang berdampingan dengan kandang sapi. Kendati hidup sebatang kara di dalam gubuk reot tersebut, Nenek Suri tak pernah takut dalam mempertahankan hidupnya.

Saat dimintai keterangan media ini, Nenek Suri Alias Ibu Tolak tidak pernah tersentuh program pemerintah baik tingkat desa, kabupaten maupun pemerintah pusat. Jatah beras miskin yang pernah diterimanya dulu, saat ini sudah tidak dapat lagi. Suri juga mengaku beberapa tahun lalu pernah mendapat bantuan langsung tunai. Tapi saat ini dia sudah tak menerima bantuan apa pun dari pemerintah.

“Kondisi rumahnya hanya berdindingkan kayu lapis dan beratap ilalang. Kondisinya pun makin memprihatinkan, karena di dalamnya hanya terdapat tungku memasak dan dua lincak untuk tidur dengan tanah sebagai lantai. Hidupnya Nenek Suri semakin memprihatinkan karena untuk makan setiap hari ia teraksa mengkonsumsi pucuk daun yang ada di sekitarnya, seperti daun waluh dan bayam,” terang Marsutif warga yang sering memberi bantuan makan ke Nenek Suri.

Tak hanya itu saja keterangan yang disampaikan Marsutip, namun dia juga menjelaskan, untuk bisa makan Nenek Suri harus rela menunggu belas kasih warga lain untuk memberi beras jagung kepadanya. “Nenek Suri alias Ibu Tolak ini diketahui warga sekitar telah hidup sebatang kara lebih dari 10 tahun setelah suaminya meninggal. Sedangkan anak satu-satunya yang juga hidup serba kekurangan juga tinggal di luar kampungnya,” jelas Marsutif.

Warga se kampung, imbuh Marsutif, sering mengusulkan bantuan program bedah rumah atau RTLH yang setiap tahun digelontorkan pemerintah. Namun sayangnya hingga saat ini tak tersentuh atau tak pernah terealisasi pengusulan bedah rumah tersebut. “Kondisi Nenek Suri terus menjadi perbincangan warga setelah upaya mereka mengusulkan untuk mendapat program RTLH di tahun 2018 tak terwujud. Justru sebaliknya, rumah yang masih layak huni yang mendapat program RTLH,” ungkap Marsutif dan warga yang lainnya.

Padahal, sambung Marsutif, setiap tahun pemerintah Kabupaten Situbondo selalu mengucurkan program bedah rumah per desa mendapat 10 titik dengan nilai anggaran 10 juta rupiah per rumahnya. “Warga setempat berharap pemerintah Kabupaten Situbondo bisa turun langsung melihat nasib Nenek Suri warga miskin yang tinggal di gubuk reot di pinggir hutan Dusun Cottok, Desa Kayumas, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo,” pungkasnya. 

Top