MALANGTIMES - Anggaran menipis, pembenahan jalan rusak di Kota Malang terpaksa mandek. Sementara waktu, jalan berlubang yang ada terpaksa hanya ditutup dengan material padat.

"Dana insidental sudah menipis, untuk membenahi satu lokasi saja sudah nggak nutut sepertinya," terang Kepala Dinas PUPR Kota Malang, Hadi Santoso pada wartawan, Senin (18/3/2019).

Menurutnya, anggaran insidental memang bukan anggaran yang ditetapkan untuk kerusakan yang sudah diprediksi. Melainkan khusus untuk pembenahan jalan yang memang tak masuk dalam prediksi sebelumnya.

"Jadi dana insidental ini hanya ketika ada yang rusak. Ketika tidak ada jalan yang rusak, maka nggak bisa itu dana diserap," tambahnya.

Sesuai kebutuhan, pembenahan jalan rusak menggunakan dana insidental menurutnya adalah pada jalan satu ruas yang tak lebih dari 30 persen. Sehingga proses pengerjaannya adalah dengan cara tambal sulam.

Untuk pembenahan menggunakan hotmix, menurutnya anggaran yang dibutuhkan per meter perseginya adalah Rp 141 ribu dengan ketebalan aspal 4 centimeter. Sedangkan untuk pembenahan secara penetrasi dengan ketebalan 15 centimeter dan memanfaatkan batu, anggaran yang dibutuhkan adalah Rp 290 ribu per meter persegi.

Beberapa ruas jalan yang rusak pun menurutnya sudah mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kota Malang. Beberapa kawasan yang memang sudah masuk dalam catatan Dinas PUPR untuk proses pembenahan, akan segera dilaksanakan.

"Seperti di Kasin salah satunya, itu masih menunggu lelang. Sementara ini masih kota tambal dengan material padat. Setelah ada pemenang, maka nanti harus dibongkar dan dibuat sesuai dengan yang ditentukan," jelas pria yang akrab disapa Sony itu.

Dia juga menjelaskan jika kekurangan dana insidental itu akan segera diajukan. Namun mekanismenya memang harus menunggu APBD-Perubahan dan tidak dapat dilakukan secara serta merta.

"Sudah masuk, akan dianggarkan di Perubahan Anggaran Keuangan (PAK)," tutup Sony.