Ilustrasi (HarianNusa).
Ilustrasi (HarianNusa).

MALANGTIMES - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau akan datang pada April mendatang. Namun beberapa wilayah diperkirakan akan mengalami musim kemarau lebih awal. Salah satunya adalah Jawa Timur (Jatim).

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal melalui keterangan tertulisnya menyampaikan, dari total 342 zona musim (zom) di Indonesia, sebanyak 79 zom (23,1 persen) diprediksi akan mengawali musim kemarau pada April 2019. Yaitu di sebagian wilayah Nusa Tenggara, Bali, dan Jawa.

Baca Juga : Sehari 9 Korban Covid-19 di Surabaya Meninggal, Gubernur Minta Contoh Magetan Tekan Kasus

Wilayah-wilayah yang memasuki musim kemarau pada  Mei sebanyak 99 zom (28,9 persen) meliputi sebagian Bali, Jawa, Sumatera, dan sebagian Sulawesi. Sementara itu, 96 zom (28,1 persen) di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua akan masuk awal musim kemarau pada Juni 2019. 

"Masyarakat di beberapa wilayah juga perlu waspada akan datangnya kemarau yang lebih awal," kata Herizal.

Beberapa wilayah yang diprediksi akan mengalami kemarau lebih awal adalah sebagian wilayah NTT, NTB, Jawa Timur bagian timur, Jawa Tengah, Jawa Barat bagian tengah dan selatan, sebagian Lampung, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan dan Riau serta Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Selain itu,  kewaspadaan dan antisipasi dini diperlukan untuk wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih kering dari normalnya. Di antaranya wilayah NTT, NTB, Bali, Jawa bagian selatan dan utara, sebagian Sumatera, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Merauke.

Sementara itu, terkait awal musim kemarau 2019, Herizal mengatakan jika datangnya musim kemarau berkaitan erat dengan peralihan angin Baratan (Monsun Asia) menjadi angin Timuran (Monsun Australia).

Peralihan peredaran angin Monsun itu akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara pada Maret 2019, lalu wilayah Bali dan Jawa pada April 2019, kemudian sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi pada Mei 2019 dan akhirnya Monsun Australia sepenuhnya dominan di wilayah Indonesia pada bulan Juni hingga Agustus 2019. "Mengingat El-Nino lemah dan IOD tidak akan banyak memengaruhi peralihan musim kali ini," jelas Herizal.

Kondisi musim kemarau 2019 diperkirakan akan lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan Monsun Australia dan gangguan cuaca berupa gelombang atmosfer tropis skala sub-musiman, yaitu MJO (madden julian oscillation).

Baca Juga : Hotel Pondok Jatim Park Sudah PHK 41 Karyawan

Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologis curah hujan musim kemarau (periode 1981-2010), kondisi musim kemarau 2019 diperkirakan normal atau sama dengan rerata klimatologisnya pada 214 zom (62,6 persen).

Sedangkan 82 zom (24 persen) akan mengalami kondisi kemarau bawah normal (curah hujan musim kemarau lebih rendah dari rerata klimatologis) dan 46 zom (13,4 persen) akan mengalami kondisi atas normal (lebih tinggi daripada curah hujan reratanya).

"Secara umum puncak musim kemarau 2019 diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus sampai September 2019," imbuh Herizal.

Dia pun mengimbau agar instansi terkait, pemerintah daerah, dan seluruh masyarakat untuk waspada dan bersiap terhadap kemungkinan dampak musim kemarau terutama wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, dan ketersediaan air bersih.