Proses pengikisan lapisan permukaan oleh tim BPCB Jatim dilokasi situs Sekaran
Proses pengikisan lapisan permukaan oleh tim BPCB Jatim dilokasi situs Sekaran

MALANGTIMES - Situs Sekaran yang ditemukan di Desa Sekarpuro Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, diprediksi akan menjadi literasi akademis tentang sejarah masa lalu. Pasalnya, Wicaksono Dwi Nugroho ketua tim arkeolog BPCB Jatim mendapati adanya pola yang tak biasa dari semua penggalian yang sudah ia lakukan sebelumnya. 

Adanya pola yang berbeda tersebut, untuk sementara ia meyakini situs Sekaran tersebut mampu membuktikan bahwa  terdapat sebuah pedesaan masa pra-Majapahit di wilayah Malang.

“Situs ini, bisa dijadikan bahan tambahan literasi akademis untuk mengungkap masa lalu. Sebab, pola yang kami temukan ini berbeda dan belum pernah kami temukan pola seperti ini dalam penggalian sebelumnya,” ujar Wicaksono kepada Malang Times saat ditemui Minggu (17/3/2019).

Ia menuturkan bahwa selama penggalian, ia menemukan 4 titik tatanan batu bata yang terpisah. Sehingga hal tersebut membuat agar ia bersama titmnya harus mengikuti alur dari tatanan tersebut dari lokasi awal penemuan yang mengarak ke barat laut. Kemudian ia juga menuturkan bahwa dalam sejarah penggalian BPCB Jatim, temuan pola seperti yang ia temukan di situs Sekaran tersebut masih belum pernah ia temukan di penggalian situs sebelumnya. Ukuran batu bata yang ditemukan di situs tersebut jua ia katakan tidak pernah ia temui di situs Trowulan yang ada di Mojokerto,

“Pola ini masih belum pernah kita temukan di penggalian sebelumnya, perkiraan kami ini sebuah pedesaan kuno zaman pra-Majapahit,” tegas Wicaksono.

Ia menuturkan terdapat perkembangan  yang cukup signifikan dalam pembangunan situs Sekaran tersebut. Ia juga menuturkan bahwa sejumlah batu bata yang ia temukan saat penggalian, tak semuanya ditemukan secara utuh. Namun, juga terdapat beberapa bagian yang sudah rusak atau runtuh yang ia duga karena ada sebuah aktivitas sebelum situs tersebut terpendam. Kemudian ia juga menuturkan bahwa pihaknya tidak menemukan kerusakan situs yang disebabkan oleh dampak bencana alam.

“Selama penggalian, kita tidak temukan pasir vulkanik, dan juga retakan karena gempa masih belum kita temukan. Mungkin saja situs tersebut rusak akibat dari ditinggalkan dan kemudian dibiarkan waktu itu, mungkin karena perang antar kerajaan,” tegasnya.

Namun untuk pengungkapan yang lebih jelas struktur bangunan apa dari situs tersebut, ia mengatakan bahwa tim-nya tersebut membutuhkan waktu penggalian yang sudah ia jadwalkan akan berakhir pada 21 Maret 2019 nanti.