MALANGTIMES - Menuju Letih

*dd nana

"Setiap yang bergerak akan terhenti jua. Entah pada tepi atau sisi lembayung paling murung."

1/
Menyeduh gerak berulang-ulang. Menatap putaran yang sesekali beriak. Sebelum semua pecah pada tepi yang terkadang tak diharapkan.
Kita sama-sama terdiam. Menghitung kekalahan yang kita sembunyikan pada kantong celana. Di sana, ternyata ada juga asin air mata.

2/
Di luar hujan membeku dan jelma sketsa garis putus-putus. Di dadaku, sebuah ruang semakin lenggang. Tak ada yang datang, tak ada percakapan yang dilirihkan. Tak ada juga gaduh tubuh yang saling bersitumbuk memecah rindu.
Tuhan, mungkin sedang tidak ingin diganggu dengan segala kisah cengeng yang itu itu jua.

3/
Salam. Namaku detak yang menyempurnakan ragu. Yang menguatkan rindu. Masih kau ingat aku, puan?
Tak ada jawab. Tapi ada yang terisak begitu dalam. Sebelum gerak kembali memecahkan tubuhnya sendiri. Dan detak semakin melemah di jemari yang semakin terbuka. 
Hidup itu keseimbangan. Ada yang lahir dan sebagian wajib dikuburkan. Begitulah ujar sebuah kitab, dimana disuatu waktu aku menemukan sebuah halaman yang mengisahkan tubuh detak tak lagi memiliki gerak. 
Mataku ikut retak, puan.

4/
Jam dinding di kamar meringkuk. "Ini dini hari, jangan kau ganggu aku. Tidurlah, selimuti tubuhmu. Angin di luar menyeru-nyeru sebuah nama yang bukan milikmu,".
Aku pun sendiri bersama cahaya yang pamit menuju tepi. Sedang nama yang diseru angin di luar sana masih aku kunci. Di bilik yang sejak lahir aku siapkan untuknya.
Nama yang aku titipkan pada jam dinding saat aku begitu murung dan bersiap beranjak pada alas letih paling ringkih.
"Ini masih dini hari, sesekali tolong jangan ganggu aku. Lepaskan saja nama itu, agar kau bisa istirah. Dan aku terlelap dalam detakku sendiri."
Sungguh, aku masih belum berani bunuh diri.

5/
Ijinkan aku letih dan menepi. Sebentar saja. Mungkin, di sisi paling nyeri aku masih mampu menisankan rindu.
Lantas, aku bisa berjalan lagi. Tanpa menolehkan kepala.
Gerimis datang membasahi air mata. Mencoba menghapus sepi sedih, walau sia-sia. Walau memberikan warna sepia pada segala yang dikuburkan. 
Tapi, cinta adalah sesuatu yang nyaris abadi. 
Di tepi letih pun aku masih saja menginggaukan namamu.

6/
Sebab sujudku tak sampai tepi-Mu
Aku masih saja serupa binatang jalang yang suka meraung
Dan meruang dalam sangkar yang disebut nyeri.
"Tapi, setiap yang bergerak akan terhenti jua. Entah pada tepi atau sisi lembayung paling murung. Aku tak ingin memilih sungguh."

*Hanya pecandu kopi lokal