Suasana kawasan pertanian di sekitar Gunung Bromo. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Suasana kawasan pertanian di sekitar Gunung Bromo. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Bagi wisatawan yang ingin menikmati liburan akhir pekan di kawasan wisata Gunung Bromo, ada baiknya menyertakan masker dalam perbekalan. 

Pasalnya, gunung berapi aktif setinggi 2.329 meter di atas permukaan laut itu masih erupsi dan mengeluarkan material abu vulkanik. 

Hingga hari ini (16/3/2019) gunung yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) itu sempat mengalami peningkatan volume lontaran abu vulkanik. 

Namun, statusnya masih tetap di level II atau Waspada dan dinyatakan aman bagi wisatawan. 

Balai Besar (BB) TBNTS pun mengimbau pengunjung yang sedang berwisata, untuk tidak mendekati area kawah dengan radius 1 kilometer.

"Sampai siang ini Bromo masih mengeluarkan material abu vulkanik dan mengarah ke sejumlah kawasan seperti di Ngadisari, Sukapura, dan sekitarnya," ujar Kabag Humas BB TNBTS Syarif Hidayat. 

Jejak hujan abu tipis, juga terlihat di halaman kantor TNBTS yang berada di Dusun Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. 

"Abu juga terlihat di kendaraan," imbuhnya.

Untuk saat ini, wisatawan masih ada yang berkunjung ke Bromo. 

"Kunjungan masih ada, tapi (saat ini) low season," kata dia.

Berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Bromo masih berada di level II atau waspada. 

Oleh karena itu, pengunjung diimbau agar tidak mendekat ke arah kawah. 

"Pengunjung dilarang mendekati kawah radius 1 kilometer," tegasnya.  

Kasi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Bagyo Setyono menambahkan, kondisi di Gunung Bromo masih terbilang aman. 

"Bromo erupsi pada status waspada dan masih aman dikunjungi dan (masih) eksotis," ujarnya.

Dia menjelaskan, aktivitas Gunung Bromo sejak 1 bulan terakhir secara visual dicirikan oleh asap putih tipis sampai tebal. 

Sementara kegempaan dicirikan oleh amplitudo tremor yang kecil kisaran 1 milimeter. 

Namun beberapa kali gangguan goncangan dari gempa subduksi pada 19 Februari 2019 dan 10 Maret 2019 mengganggu keseimbangan kawah Gunung Bromo. 

"Sehingga asap putih tipis sampai tebal yang keluar dari kawah Gunung Bromo sesekali berubah mengeluarkan embusan abu tipis warna coklat," jelasnya.

Secara umum, lanjutnya, aktifitas Gunung Bromo tidak menunjukkan peningkatan aktifitas yang signifikan. 

"Ya itu erupsi berupa hembusan abu. Masih aman, diluar radius 1 kilometer dari kawah dan gunakan masker," terangnya. 

Dia menjelaskan, hembusan abu dan sebarannya bergantung kecepatan dan arah angin. 

Karena itu disarankan untuk mengenakan masker dan tidak mendekati jarak radius 1 kilometer dari kawah. 

"Arah angin tak tentu. Banyak mengarah ke utara, barat, tenggara," pungkasnya.

 

End of content

No more pages to load