illustrasi medikanews.com

illustrasi medikanews.com



MALANGTIMES - Kesadaran untuk berobat warga Malang penderita penyakit Tuberkulosis (TB/TBC) Multidrug-Resistant (MDR) masih rendah. 

Pasalnya, baru 45 persen pasien TB dengan kondisi resisten terhadap obat anti-tuberkulosis (MDR) itu yang mau berobat. 

Artinya, masih ada 65 persen lainnya yang enggan menjalani pengobatan. 

Padahal, pasien TB-MDR membutuhkan perawatan dan pengobatan yang lebih serius dibandingkan penyakit TB biasa. 

"Hanya 45 persen yang mau berobat, sisanya tidak mau diobati. Padahal TB MDR ini kebal obat dan resiko besar bisa menular pada orang di sekitarnya," ujar dr Ungky Agus Setyawan Sp.P, dokter spesialis paru Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Malang. 

Di sela sosialisasi pencegahan penyakit TB-HIV yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, pekan ini, Ungky menyebut penderita TB-MDR harus rutin menjalani rangkaian pengobatan yang disarankan oleh dokter. 

"Salah satu alasan pasien TB-MDR enggan menjalani pengobatan lantaran jangka waktu pengobatan yang cukup lama," terangnya. 

Jika pada pasien TB biasa, jangka waktu pengobatannya sekitar 6 bulan. 

Sementara, bagi penderita TB-MDR pengobatannya bisa membutuhkan waktu 9 bulan hingga dua tahun.

"Kalau sudah terkena TB sebaiknya harus benar-benar menjalani pengobatan rutin, tidak bisa berhenti," tegasnya.

"Sedangkan bagi TB MDR resiko pengobatannya lebih rumit, biasanya pasien enggan menjalani pengobatan karena takut dengan efek sampingnya," tambahnya. 

Saat ini, di RSSA Malang, tim dokter menangani pengobatan sekitar 200 pasien TB-MDR yang berasal dari Malang Raya dan sekitarnya. 

Dari jumlah itu, penderita yang berdomisili di Kota Malang sekitar 25 orang. 

Jumlah tersebut relatif kecil dibanding pasien TD biasa. 

"Untuk TB biasa, yang sudah kami tangani dan sembuh jumlahnya sudah mencapai 500 lebih pasien," tutur Ungky.

Ia pun mengimbau warga untuk tidak segan memeriksakan diri jika merasakan gejala TB.

Dengan demikian, upaya pencegahan lebih dini bisa dilakukan. 

Sehingga, penyebaran penyakit TB bisa diminimalkan. 

"Apalagi, Indonesia menjadi salah satu negara endemis TB. Bahkan Indonesia menempati ranking ketiga dunia dengan jumlah penderita TB terbanyak setelah India dan Cina," sebutnya. 

Masyarakat juga diharap lebih sadar diri. "Kalau ada yang gejala sebaiknya minta pertolongan ke tenaga kesehatan untuk melakukan screening dan pengobatan. Kami pun selama ini juga dibantu warga yang sudah sembuh dari TB-MDR, mereka ikut membantu memberikan motivasi pada pasien untuk sembuh," pungkasnya. 

End of content

No more pages to load