Salah satu tanaman bunga mawar di Lahan Dusun Santrean, Desa Sumberejo, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Salah satu tanaman bunga mawar di Lahan Dusun Santrean, Desa Sumberejo, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

MALANGTIMES - Salah satu mata pencaharian masyarakat di Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji adalah bertani apel. 

Namun pekerjaan yang digeluti bertahun-tahun ini kini mulai tergusur.

Dulu masih banyak yang menanam buah apel, tetapi kini banyak yang berpaling menanam sayuran dan bunga mawar. 

“Sekarang di sini (Desa Sumbergondo) banyak petani apel yang beralih tanam mawar dan sayur mayur,” kata Kepala Desa Sumbergondo, Nuryuwono. 

Alasannya, dengan menanam mawar dan sayur petani bisa melakukan panen dua hari sekali. 

“Setangkai harganya Rp 400, sedangkan sekali panen itu bisa dapat tiga ribu rupiah. Jadi banyak yang tertarik ke tanaman bunga mawar apalagi bisa dipanen 2 hari sekali,” imbuhnya. 

Alasan petani di sana memilih berpindah dari apel ke bunga mawar dan sayur juga karena biaya perawatan yang dikeluarkan untuk mempertahankan pohon apel sangat besar. 

Karena, hama, penyakit, PH tanah, hingga mahalnya pupuk dan obat untuk pohon apel sering membuat petani gulung tikar.

Adanya hama dan penyakit seperti kutu sisik memang jadi masalah besar. 

Untuk memberantas itu butuh dana yang cukup besar.

Untuk membunuh hama tersebut dosis bahan kimia yang digunakan cukup besar. 

Bahkan terkadang petani harus bergonta-ganti obat dengan merk berbeda untuk memberantas hama yang ada.

Namun demikian tidak semua usaha tersebut berhasil. 

Mereka lagi-lagi harus rela merogoh koceh yang besar agar pohon apelnya tidak mati. 

Beberapa petani mengaku gagal total merawat pohon apel miliknya meskipun sudah mengeluarkan budget  tinggi.

Sementara itu petani sayur Agus Purnomo menambahkan sebelumnya ia adalah petani apel.

Tapi karena perawatan lebih mahal daripada hasilnya sehingga ia memilih menanam sayur karena waktu panennya cepat.

“Berkurang terus yang tanam apel, termasuk saya. Butuh 4-6 tahun tanamnya, tapi sayangnya perawatan lebih masih mahal,” kata Agus.

Karena alasan itu Agus memilih fokus menanam tanaman wortel, kembang kol, dan brokoli. 

“Sekarang petani apel itu ada 20 persen, tapi 10 persen hasil panen apel enggak berhasil. Salah satu faktor hama kutu sisik yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya,” ucapnya.