MALANGTIMES - Diduga karena menyelewengkan wewenang dan jabatan, seorang sales distributor kopi Kapal Api PT. Fastrata Buana Indonesia, harus mendekam di penjara, Kamis (14/3/2019). Tersangkanya bernama Andi Prastika, warga Desa Karangduren Kecamatan Pakisaji.

Berdasarkan informasi yang dihimpun MalangTIMES, sales di perusahaan yang berlokasi di Desa Ampeldento Kecamatan Pakis ini  berurusan dengan polisi karena diduga melakukan penggelapan uang milik perusahan tempatnya bekerja. “Terhadap tersangka kami lakukan penahanan setelah sebelumnya ada laporan dari pihak perusahaan terkait dugaan penggelapan. Barang bukti yang kami amankan, berupa belasan faktur penjualan fiktif,” kata Wakapolres Malang Kompol Yhogi Setiawan.

Sebagai informasi, pelaku selama ini terdaftar sebagai karyawan perusahaan PT. Fastrata Buana Indonesia, yang bergerak dibidang distributor kopi dan kosmetik. Pria 30 tahun itu, bertugas untuk memasarkan dan mengirim barang ke toko.

Modusnya, selain dengan cara mengambil barang dari perusahaan yang ditujukan untuk dikirim ke toko yang memesan. Pelaku juga sengaja menggunakan faktur fiktif penjualan dan pengambilan barang, yang dilakukan untuk memuluskan aksi pengelapan.

“Praktik semacam ini sudah dilakukan tersangka sejak tahun 2017. Sedangkan dari proses penyidikan sementara, uang hasil penjualan tidak disetorkan ke perusahaan. Namun digunakan untuk kepentingan pribadi,” sambung perwira polisi dengan pangkat satu melati di bahu ini.

Yhogi menambahkan, praktik penggelapan yang dilakukan tersangka baru terbongkar sekitar dua tahun berselang. Tepatnya pada bulan Februari 2019 lalu. Saat itu, perusahaan mulai melakukan audit keuangan, dan menemukan kejanggalan barang yang keluar dan uang yang disetorkan terdapat selisih mencapai ratusan juta.

Setelah ditelusuri, disinyalir selisih uang penjualan yang mencapai nominal lebih dari Rp 610,9 juta tersebut bermuara pada barang penjualan yang dikirim oleh Andi. Berangkat dari sini, pihak perusahaan akhirnya melaporkan yang bersangkutan ke Polres Malang.

Mendapat laporan, beberapa personel kepolisian dikerahkan ke lapangan untuk melakukan penyelidikan, dan berhasil mengamankan pelaku. “Akibat perbuatannya tersangka dijerat pasal 374 KUHP tentang penggelapan dalam jabatan, dengan ancaman maksimal lima tahun penjara,” ujar Yhogi.

Di hadapan petugas, Andi mengaku terpaksa menggelapkan uang milik perusahaan. Pihaknya berdalih jika pernah menjadi korban penipuan. “Saya pernah tertipu oleh konsumen sebesar Rp 14 juta,” terang Andi.

Petaka berlanjut ketika pada 2017 lalu. Pria yang kini berusia kepala tiga tersebut, sempat mengirim barang pada konsumennya. Seiring berjalannya waktu, sang pemilik toko yang tercatat sebagai konsumen ini, memilih untuk mengembalikan barang kepada pelaku lantaran dagangannya tidak laku.

Mengetahui jika perusahaan tidak bersedia menerima barang retur. Tersangka akhirnya menawarkan pilihan, untuk menjualkan barang yang dikembalikan dengan sistem jual rugi. Kesepakatannya adalah, kekurangan pembayaran ke perusahaan bakal ditanggung oleh si pemilik toko.

Belakangan diketahui, setelah kesepakatan terjadi, konsumennya justru memilih kabur. Pada saat itu, pelaku harus menanggung kerugian mencapai Rp 14 juta. Perkara inilah yang membuat Andi akhirnya nekat untuk mencari pengganti uang yang dibawa kabur, dengan cara menggelapkan barang milik perusahaan secara bertahap.

Bukannya terlunasi, setelah praktik tersebut berjalan selama dua tahun. Tanggungan hutang ke perusahaan justru semakin membengkak mencapai lebih dari Rp 610,9 juta. "Saya sudah mengatakan kepada perusahaan tempat saya bekerja, jika saya siap untuk mengganti semua kerugian. Namun tidak dihiraukan dan tetap dilaporkan polisi," pungkasnya.