Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Saat ini, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Malang) sedang menyiapkan diri untuk reakreditasi institusi. UIN Maulana Malik Ibrahim sendiri saat ini sudah terakreditasi A terhitung sejak tahun 2013. Nah, sekarang UIN sedang mempertahankan akreditasi A tersebut.

Selama 3 hari, mulai 13-15 Maret asesor dari UGM, IPB, UIN Yogyakarta, dan UIN Jakarta akan melakukan assesment. Untuk diketahui, skor UIN sebelumnya ialah 364. Skor ini merupakan skor tertinggi dari seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia.

Abdul Malik Karim Amrullah selaku Kepala Pusat Audit Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Maulana Malik Ibrahim menyatakan ia optimis skor kali ini akan lebih dari sebelumnya. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa seluruh sumber daya dikerahkan dalam reakreditasi ini.

"Upaya yang dilakukan, selain kita menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan di pemenuhan borang, kita juga menyiapkan semua sumber daya yang ada di UIN Maulana Malik Ibrahim ini. Sumber daya dari dosen, mahasiswa berprestasi, hingga mahasiswa internasional ikut semuanya," jelasnya.

Dari pengelolaan mutu sendiri, UIN selalu memberikan upaya yang terbaik agar UIN menjadi universitas yang bermutu dan berkualitas. Upaya manage mutu mulai dari perencanaan, evaluasi, sampai perbaikan selalu dilakukan. "Wajar tahun 2007 UIN dapat B langsung (akreditasi), padahal perguruan tinggi besar di Jatim rata-rata B. Kemudian langsung melonjak tahun 2013 menjadi A. Sedangkan hanya 3 perguruan tinggi yang dapat A saat itu di PTKIN," imbuh Karim.

Sementara itu, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Prof. Dr. Abdul Haris, M.Ag juga menegaskan, proses reakreditasi ini melibatkan semua warga kampus, mulai dari rektor, wakil rektor, kabiro, kepala lembaga, dekan-dekan, wakil dekan, kaprodi, dan sebagainya.

"Kita memperoleh akreditasi A tahun 2013 mudah-mudahan reakreditasi ini memperoleh A lagi dengan nilai yang tinggi sesuai dengan kondisi objektif," ujarnya saat ditemui di ruang rektor.

Selain berupaya dengan menyiapkan dokumen dan mengupayakan semuanya sesuai aturan yang ada, selama ini UIN juga sudah melakukan Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Tak hanya itu, perlu diketahui bahwa UIN telah diapresiasi oleh dunia melalui konsep integrasinya. UIN Maulana Malik Ibrahim dikenal sebagai pelopor dalam upaya untuk mengintegrasikan antara science, teknologi, seni, dan agama. "Dan itu diwujudkan dalam bentuk mengintegrasikan dua lembaga, yang pertama adalah lembaga pendidikan pesantren, yang kedua adalah lembaga pendidikan tinggi," terang Haris.

Melalui dua lembaga ini, maka UIN menghasilkan orang-orang yang mempunyai kedalaman spiritual dan keagungan akhlak, selain itu juga menghasilkan keluasan ilmu dan kematangan profesional.

"Maka harapan kita akan memunculkan 4 pilar, yaitu kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional. Dan inilah yang sesungguhnya modal dari seorang alim ulama. Harus mempunyai spiritualitas yang dalam dan keluasan ilmu," jelasnya.

Seperti yang diketahui, UIN sebagai universitas yang telah diakui dunia melalui konsep integrasinya juga mendidik mahasiswa luar negeri dari 32 negara. Nah, apabila UIN telah meraih akreditasi A, sesuai dengan harapan, maka UIN akan lanjut berupaya meningkatkan lagi kualitasnya, yakni dengan berupaya meraih pengakuan internasional.

"Harapan kita UIN Maulana Malik Ibrahim ini menjadi World Class University, Universitas Kelas Dunia. Bukan hanya untuk kebanggaan saja, tetapi kita ingin memberikan kontribusi kepada dunia ini agar menjadi dunia yang damai dan saling memahami antarbangsa," tandas Haris.

"Dengan terakreditasi harus menjadi modal kita untuk terus berkembang dan tidak boleh berhenti. Tidak boleh kemudian kita puas dengan itu karena kita memanage perguruan tinggi Islam ini dengan managemen Islam," imbuhnya.

 

End of content

No more pages to load