Jaswadi tersangka kasus persetubuhan terhadap keponakannya sendiri, saat digelandang petugas UPPA Polres Malang, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Jaswadi tersangka kasus persetubuhan terhadap keponakannya sendiri, saat digelandang petugas UPPA Polres Malang, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)


Editor

A Yahya


MALANGTIMES - Perlaku Jaswadi warga Dusun Glagah Dowo Desa Pulungdowo Kecamatan Tumpang ini, bisa dibilang keterlaluan. Bagaimana tidak, pria yang sudah tua renta ini tega menyetubuhi keponakannya sendiri, yang masih berusia di bawah umur.

Korban, sebut saja namanya Jelita. Remaja belia yang saat ini berusia 15 tahun itu, sudah berkali-kali disetubuhi pamannya sendiri. Perbuatan bejad tersangka selalu dilakukan saat di rumahnya dalam kondisi sepi. 

Biasanya, sebelum menyalurkan nafsu birahinya, kakek yang kini berusia 68 tahun itu selalu melempar kalimat bujuk rayu. Untuk memuluskan keinginannya, tersangka juga mengiming-imingi korban dengan imbalan uang. Yakni berkisar antara Rp 5 ribu hingga Rp 200 ribu. Selain diiming-imingi uang, korban juga diancam.  Akibat perbuatan itu, korban hamil dan sudah melahirkan seorang bayi. Kini, bayi sudah berusia 1,5 tahun. 

Kini, perkara memilukan itu tengah ditangani aparat penegak hukum. Jaswadi pun digelandang ke kantor polisi. Jaswadi tengah menjalani pemeriksaan di ruang penyidikan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Malang, Senin (11/3/2019). “Tersangka juga mengancam korban agar tidak melawan saat diajak berhubungan intim. Selain itu korban juga diancam agar tidak menceritakan kejadian yang dialaminya kepada orang lain,” kata Kasat Reskrim Polres Malang AKP Adrian Wimbarda.

Sebagai informasi, selama ini korban memang tinggal bersama neneknya. Dimana lokasi rumah nenek dan pelaku lokasinya memang berdekatan. Hal inilah yang membuat Jaswadi leluasa melakukan aksi tidak manusiawinya tersebut.

Dalam penyidikan petugas, perbuatan asusila yang dilakukan tersangka sudah berlangsung selama lima tahun. Artinya, saat Jelita masih berusia 10 tahun. “Berdasarkan pemeriksaan terhadap korban, pelaku menyetubuhinya berulang kali. Terhitung sejak tahun 2012 sampai 2017," sambung Adrian saat dimintai keterangan oleh awak media, Senin (11/3/2019).

Selama mengalami insiden memilukan tersebut, korban sama sekali tidak berani berontak, dan hanya bisa pasrah saja. Jelita mengaku takut karena hidup dalam bayang-bayang ancaman pamannya. Yakni bakal dipukul dan dianiaya jika korban berani bercerita kepada orang lain.

Selama disetubuhi sepanjang lima tahun, Jelita dikabarkan mengandung janin dari pelaku. Bahkan proses persalinan sudah dilalui Jelita. Saat ini, usia anak yang dilahirkan korban sudah berusia 1,5 tahun.

Kasus asusila ini baru terbongkar setelah kedua orang tua Jelita menaruh curiga akan perubahan  bentuk tubuh anak gadisnya. Dimana kondisi perut korban nampak membuncit. Guna memastikannya, pihak keluarga membawa remaja belasan tahun itu ke bidan setempat.

Dari pemeriksaan bidan, diketahui jika korban dalam kondisi hamil. Orang tua Jelita yang saat itu terperangga, akhirnya mendesak korban agar berterus terang. Lantaran mendapat cercaan beragam pertanyaan, korban akhirnya mengaku jika janin yang dikandungnya saat itu merupakan hasil perbuatan bejat tersangka.

Merasa tidak terima, keluarga Jelita memutuskan untuk melayangkan laporan ke pihak kepolisian. Mendapat laporan, beberapa personel bergegas kelapangan untuk melakukan penyelidikan. Meski sempat mengelabuhi polisi, bapak dua anak itu, akhirnya , berhasil diringkus petugas setelah menjadi buron selama dua tahun.

“Pelaku kami amankan saat berada di rumahnya. Akibat perbuatannya tersangka kami jerat dengan undang-undang perlindungan anak, kasus ini masih kami dalami,” tutup perwira polisi dengan pangkat tiga balok dibahu ini. 

End of content

No more pages to load