Band DeWolff asal pedalaman Belanda yang kian mendunia dan akan menyapa masyarakat Malang. (Ist)

Band DeWolff asal pedalaman Belanda yang kian mendunia dan akan menyapa masyarakat Malang. (Ist)



MALANGTIMES - Quentin Tarantino patut berbangga. Pasalnya, salah satu karya filmnya berjudul Pulp Fiction (1994) dengan satu karakternya bernama The Wolf yang diperankan  Harvey Keitel telah melahirkan satu band asal Belanda yang mendunia, DeWolff.

Band yang lahir tahun 2007 ini digawangi oleh Luka van de Poel (drum), Pablo van de Poel (vokal/gitar),  kibor yang diisi Robin Piso. Band dengan aliran psychedelic dan blues rock pada awalnya ini terinsipirasi tokoh The Wolf dalam film Pulp Fiction.

Tokoh yang merupakan perwujudan nyata dalam ketenangan batin menghadapi berbagai masalah yang sulit dijinakkan oleh orang lainnya. Seperti pernah dituliskan oleh pakar psikologi George Mumford, dalam salah satu kalimatnya: "merespons dari titik pusat badai, bukannya bereaksi terhadap kekacauan yang ditimbulkan badai".

Katakter fiktif The Wolf dalam film drama kriminal dengan alur cerita yang non-linear serta terkenal dengan dialog-dialognya yang kaya dan menggunakan kosakata yang unik. Campuran humor dan kekerasan yang ironi  serta masuknya berbagai referensi film dan kebudayaan pop inilah yang menginspirasi tiga musisi yang saat itu masih berusia belasan tahun  (Pablo 13 tahun, Luka 15 tahun, dan Robin 17 tahun) mendirikan band rock and roll dengan nama DeWolff.

Serupa dengan nasib filmnya yang menyabet berbagai piala, band yang awal kiprahnya dipengaruhi oleh Jimi Hendrix, The Doors, Leon Russel, Allman Brothers, dan Led Zeppelin ini pun merangkak sukses di belantika musik dunia. Sejak kontrak pertamanya, berbagai lagu DeWolff, baik yang terdapat dalam rilisan EP, album studio dan live, sukses di Belanda serta terus merambah berbagai negara.

Personil band DeWolff (Ist)

Kehidupan tiga musisi remaja itu pun mendewasa di berbagai panggung dan jalanan dengan berbagai album. Antara lain  "Strange Fruits and Undiscovered Plants (2009),  Orchards/Lupin (2010), DeWolff IV (2012) Grand Southern Electric  (2014). Juga pada  tahun 2015: Live & Outta Sight (Live) (#19), Roux-Ga-Roux (#7) tahun 2016, sampai album Thrust (2018).

Berbagai pujian para kritikus lagu maupun para band rock and roll lainnya tidak membuat DeWolff lupa akar bermusik mereka. Di tengah gempuran band atau musik yang bertumpu pada kecanggihan digital atau komputer, DeWolff tetap bersetia sebagai band yang mengusung konsep sebagai pengrajin musik.

"Musik adalah kerajinan dan saya bisa mendapatkan kesenangan besar dari mendengarkan para perajin musik, misalnya Peter Green," kata Pablo seperti dilansir Blues Network.

Pablo juga menyampaikan saat itu, banyak musisi yang menguasai instrumen mereka hanya 50 persen. Sebanyak 50 persen lainnya bergantung pada efek, pengeditan digital, metronom, backing track, sampel dan lainnya. "Singkirkan semua itu dan tidak banyak yang tersisa! Yang saya rindukan adalah beberapa orang mengambil alat musik dan memainkan hati mereka dan hanya membuat musik yang bagus bersama!" ujarnya yang dipertegas dengan kalimat: "Ketakutan saya adalah bahwa ini akan menjadi langka dan semua musik akan dibuat oleh komputer. Jika itu terjadi, saya akan pindah ke Mars," tegas Pablo.

Bagi DeWolff yang terinspirasi dari sosok The Wolf Pulp Fiction, teknologi canggih dalam bermusik bukan merupakan ancaman. Walaupun menjadi persoalan di satu sisinya, mereka menempatkannya tepat  seperti yang disampaikan Mumford. "Meresponsnya dari titik pusat badai, bukannya bereaksi terhadap kekacauan yang ditimbulkan badai". 

"Kami tidak peduli musik kami keren atau tidak. Kami hanya mengikuti kata hati kami. Musik yang kami mainkan keluar secara alami," ujar Pablo.

Kesetiaan memainkan musik melalui hati tersebut yang membuat DeWolff sampai saat ini bertahan di kerasnya belantika musik dunia. Bahkan, keberadaan DeWolff menjadi inspirasi band-band sejenisnya di Belanda. Album Thrust tahun 2018 pun lahir dengan konsep yang semakin sempurna. 

Disebut album paling ambisius dan kontemporer serta mewakili suara rock 'roll' pada tahun 2018, Thrust memiliki kandungan kemarahan, frustrasi, emosi dan kadang-kadang kekecewaan dengan keadaan dunia saat ini. Dosis tersebut  disampaikan dengan cara epik yang indah dan megah. "Kami ingin album yang terdengar berat dan modern, tidak seperti album kami sebelumnya yang semuanya terdengar" vintage "dan bisa dibuat di tahun 70-an," tulis DeWolff  seperti dilansir dari website DeWolff.

End of content

No more pages to load