Ilustrasi (Istimewa).

Ilustrasi (Istimewa).



MALANGTIMES - Berdasarkan hasil survei, elektabilitas calon anggota legislatif masih didominasi oleh petahana, baik DPRD kota/kabupaten ataupun provinsi dan DPR RI. 

Namun sederet nama baru juga sudah mulai masuk dalam penilaian masyarakat.

Direktur Lembaga Adiwangsa, Mahatva Yoga menyampaikan, dari hasil survei yang dilakukan di Malang Raya sejak akhir 2018 lalu hingga Februari 2019, menunjukkan elektabilitas petahana masih kuat. 

Sederet nama seperti Ahmad Basarah, Andreas Maryoto, hingga Moreno Soeprapto masih mendominasi pilihan masyarakat dalam pileg 2019.

"Tapi menariknya, nama Krisdayanti juga sudah mulai banyak dilirik dan dipilih. Meski belum tahu sepak terjangnya, tapi Krisdayanti dipilih lantaran dia banyak dikenal," kata pria berkacamata itu pada wartawan belum lama ini.

Sementara untuk kursi legislatif di tingkat provinsi, nama Sri Untari menurutnya masih sangat mendominasi. 

Karena dia menjadi salah satu tokoh perempuan yang banyak dikenal publik Malang Raya. 

Selain itu, satu nama baru yaitu Jajuk Sulistyowati atau Jajuk Rendra Kresna mulai merangkak.

"Nama Jajuk juga cukup bersaing dengan Sri Untari, mulai banyak di pilih," imbuhnya.

Dari hasil survei itu, menurutnya sebagian besar pemilih memiliki kecenderungan pada visi dan misi yang ditawarkan masing-masing caleg. 

Di sisi lain juga masih berkaitan dengan kedekatan emosi atau saling kenal dengan caleg yang akan maju.

Namun secara prosentase, pemilih di Malang Raya menurutnya cenderung melihat gerakan dan solusi yang ditawarkan setiap calon. 

Pendekatan melalui media sosial dan terjun langsung ngobrol dengan masyarakat juga dinilai sangat efektif.

"Rata-rata masyarakat mau memilih karena misi dan solusi yang mereka tawarkan. Kemudian kedekatan karena kenal, dan ada juga yang merasa calon yang dipilih loyal dan dinilai cocok memimpin saat mereka berkunjung menyapa warga," papar Yoga.

Dia juga menegaskan jika 51 persen responden yang dipilih secara acak itu memilih calon yang jujur dan bersih dari korupsi. 

Mereka cenderung melihat sosok dan tidak lagi terpatok pada partai politik yang ditunggangi masing-masing calon.

"Meski masih ada beberapa responden yang memilih lantaran partai yang sesuai dengan visi dan misi mereka, tapi sedikit," pungkasnya. 

 

End of content

No more pages to load