Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung saat ditemui di ruangannya, Kabupaten Malang (Foto : Dokumen MalangTIMES)

Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung saat ditemui di ruangannya, Kabupaten Malang (Foto : Dokumen MalangTIMES)


Editor

A Yahya


MALANGTIMES - Jajaran petinggi kepolisian Polres Malang, sepertinya benar-benar geram akan pemberitaan yang belakangan viral di media sosial (medsos). Setelah sebelumnya Wakapolres Malang Kompol Yhogi Setiawan, secara tegas membantah jika ada anggota kepolisian Polres Malang yang dikirim untuk mengikuti pelatihan Buzzer. Kali ini giliran Kapolres Malang yang turut berkomentar terkait kabar yang menjamur di dunia maya tersebut.

“Tidak usah terlalu ditanggapi hoax murahan seperti itu,” tegas Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung, saat dikonfirmasi MalangTIMES, Jumat (8/3/2019).

Pihaknya menambahkan, jika sampai saat ini Polri masih memegang teguh netralitas dalam pemilu (pemilihan umum). Andaikan terlibat dalam konteks pesta demokrasi, itu semata-mata dalam rangka pencegahan penyebaran hoax dan fitnah yang marak terjadi di dunia maya. “Kami terlibat pemilu sebagai upaya untuk cooling system (pencegahan) peredaran isu hoax. Itu yang kami kerjakan selama ini,” tegas anggota Polri yang akrab disapa Ujung ini.

Perwira polisi dengan pangkat dua melati di bahu itu menegaskan, jika tugas Polri adalah memelihara Kamtibmas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat). Tugas melekat tersebut, menurutnya bukan hanya dilakukan dalam dunia nyata sehari-harinya. Melainkan juga diwujudkan dalam dunia maya. “Polri memang punya tim cyber troops, tapi tugasnya bukan menyebar hoax sebagaimana yang dituduhkan. Tapi justru untuk menangkal hoax,” terang Ujung.

Pasukan khusus yang tergabung dalam tim cyber troops Polres Malang ini, aktif melakukan pengawasan terkait kabar yang berhembus di dunia maya. Salah satunya saat menjelang pemilu, yang bakal digelar dalam hitungan beberapa bulan ke depan. “Proses menangkal hoax itu kami lakukan dengan cara menyebar meme yang berisi imbauan yang kami lakukan secara terus menerus. Himbauan tersebut bisa dilihat di akun-akun medsos resmi milik Polres Malang dan Polsek jajaran,” sambung Ujung.

Terkait tuduhan yang dianggap keji itu, anggota polisi nomor satu di wilayah Hukum Polres Malang ini mengimbau, terhadap masyarakat khususnya kepada rekan media (jurnalis), agar lebih jeli dalam melihat isu hoax yang menyudutkan berbagai pihak tersebut. “Kita harus jeli dalam memilah informasi, jangan sampai malah memberikan angin segar serta ruang panggung untuk pembuat kabar hoax,” imbaunya.

Ketika ditanyakan akan maksud dan tujuan beredarnya kabar buzzer dan aplikasi Sambhar, yang diposting akun @opposite6890 melalui twitter dan instagram. Ujung mengatakan jika kabar tersebut dilakukan untuk mengacaukan proses pemilu. Menurutnya, isu hoax memang sengaja dibuat secara berkelanjutan agar semakin luas dampak negatif yang terjadi di kalangan masyarakat. “Jelang pemilu, seperti ada upaya mendelegitimasi penyelenggara pemilu (Bawaslu dan KPU) bahkan aparat keamanannya (Polri dan TNI) dengan isu-isu murahan seperti ini. Mari sama-sama kita jaga pemilu agar berjalan aman dan lancar,” pungkasnya.

End of content

No more pages to load