Kepala BNN Kabupaten Malang, Letkol Laut (PM) Agus Musrichin saat menunjukkan foto bandar narkoba yang terlibat jaringan internasional, Kabupaten Malang (Foto : Dokumen MalangTIMES)

Kepala BNN Kabupaten Malang, Letkol Laut (PM) Agus Musrichin saat menunjukkan foto bandar narkoba yang terlibat jaringan internasional, Kabupaten Malang (Foto : Dokumen MalangTIMES)



MALANGTIMES - Kasus peredaran narkoba di wilayah Kabupaten Malang, bisa dikatakan semakin memprihatinkan. Hal ini menyusul dari banyaknya pengedar maupun penguna penyalahgunaan narkoba, yang berhasil diamankan tim penegak hukum baik Polres Malang maupun Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Malang.

Seperti kasus yang baru saja diungkap jajaran kepolisian Unit Reskoba Polres Malang, pada Selasa (5/3/2019) lalu. Saat itu, petugas berhasil mengamankan seorang pengedar yang diketahui bernama Mochamad Sholeh warga Dusun Karangjuwet Desa Donowarih Kecamatan Karangploso.

Dari tangan pria 40 tahun tersebut, petugas mengamankan sedikitnya 500 butir pil inex (sejenis ekstasi) dan 36 gram sabu. Belakangan diketahui, tersangka mendapatkan pasokan barang haram tersebut dari wilayah Madura.

Menanggapi hal ini, Kepala BNN Kabupaten Malang, Letkol Laut (PM) Agus Musrichin menjelaskan, pembangunan tol Malang - Pandaan (Mapan) serta peningkatan status bandara Abdul Rachman Saleh, bisa saja menjadi pemicu maraknya peredaran narkoba dari luar yang masuk ke wilayah Kabupaten Malang.

“Sebenarnya ada segi positif maupun negatif. Dengan adanya pembangunan, tidak menutup kemungkinan Malang bakal menjadi tempat transit narkoba. Dari yang semula menggunakan jalur laut, kini bisa ditempuh menggunakan jalur darat dengan adanya pembangunan tol tersebut,” kata Agus, Jumat (8/3/2019).

Agus menambahkan, pasokan narkoba yang masuk ke Malang, kini tidak hanya dipasok dari luar kota. Melainkan juga dari luar negeri. Seperti kasus yang diungkap BNN pada akhir tahun 2018 lalu. Saat itu petugas mengamankan dua tersangka bandar narkoba yang mendapat pasokan dari Malaysia. Mereka adalah RV dan LK (inisial), warga Desa Ampelgading Kecamatan Tirtoyudo.

Diperoleh keterangan, kedua pelaku sempat bekerja di tempat judi yang ada di Malaysia. Setelah bekerja selama puluhan tahun itulah, pelaku mulai mendapatkan relasi akan pasokan sabu. Merasa tergiur, RV dan LK nekat menjadi bandar sabu di indonesia. Diketahui keduanya sudah menjalankan bisnis haram tersebut selama empat bulan, sebelum akhirnya diringkus BNN pada September 2018 silam.

“Narkoba jenis sabu tersebut, didatangkan dari Malaysia dan di drop ke Madiun. Rencananya barang bukti sabu seberat 4 kilogram yang kita amankan itu, bakal dikirim ke Madura lewat jalur darat,” sambung Agus.

Terkait potensi Malang sebagai daerah transit peredaran narkoba, membuat BNN Kabupaten Malang kian gencar memerangi narkoba. Salah satunya dengan memperketat pengawasan di daerah yang berpotensi menjadi tempat peredaran narkoba. Seperti misalnya di rest area jalan tol Mapan, yang bisa saja dijadikan lokasi transaksi bagi kurir dan pengedar narkoba.

“Kami juga aktif melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat untuk memerangi narkoba. Selain itu kami juga melibatkan peran serta Polri, TNI, dan bea cukai guna memerangi peredaran narkoba,” ujar Agus.

Sementara itu, Kasi Rehabilitasi BNN Kabupaten Malang Mohammad Choirul mengaku sependapat dengan fenomena maraknya peredaran narkoba. Terbukti, hingga awal bulan maret ini. Sedikitnya ada 39 orang yang menjalani rehabilitasi. “Tahun lalu jumlah peserta rehabilitasi narkoba juga banyak, tercatat ada 95 orang yang menjalani masa pemulihan karena kecanduan narkoba,” pungkasnya.

End of content

No more pages to load