Screenshot
Screenshot

MALANGTIMES - Publik kembali dibuat geger dengan pernyataan praktisi media sosial Mustofa Nahrawardaya yang menyebut jika Polri diduga telah memproduksi konten hoax secara terorganisasi.

Hal itu ramai diperbincangkan publik setelah video wawancara Mustofa Nahrawardaya dengan TV One dalam Kabar Petang ditayangkan. Cuplikan video itu pun kemudian semakin viral di media sosial setelah disebarkan beberapa kali.

Dalam cuplikan video berdurasi tidak kurang dari tiga menit itu, Mustofa menyampaikan jika sebuah akun Twitter dan Instagram bernama @opposite6890 telah berhasil melakukan investigasi dan membongkar praktik produksi konten hoax tersebut.

"Ada akun yang berhasil investigasi yaitu Opposite6890 yang berhasil membongkar praktik produsen hoax yang dilakukan oleh oknum berseragam cokelat," katanya sebagaimana dikutip dalam video yang tersebar luas di Facebook.

Meski mengaku tak tahu siapa pemilik dan admin dari akun tersebut, Mustofa menyampaikan jika dia telah membuktikan sendiri postingan dari akun @opposite6890 tersebut dengan cara mendeteksi IP address dari APK Sambhar.

"Dan IP dari aplikasi itu setelah ditelusuri tim saya memang benar, terpusat di Jl Trunojoyo (kantor Mabes Polri; red)," imbuh pria berkacamata itu.

Mustofa menjelaskan, APK Sambhar itu menjadi pusat pengelolaan buzzer untuk memproduksi hoax. Sehingga setiap anggota kepolisian wajib untuk mengunduh aplikasi tersebut dan melakukan komunikasi antara satu dengan yang lainnya.

Dia juga menyampaikan jika Polri diduga merekrut 100 anggota dari setiap struktur komando Kepolisian Republik Indonesia di daerah kabupaten/kota atau yang biasa kita kenal sebagai  kepolisian resor (polres). "Dan postingan mereka itu sangat merugikan pasangan calon Presiden 02. Mabes Polri harus usut ini semua agar tak menjadi fitnah," ujar Mustofa.

 

 

Sementara itu, akun twitter @opposite6890 sejak beberapa hari terakhir telah mengunggah beberapa cuitan yang menyebut jika kepolisian adakan pelatihan buzzer yang mewajibkan anggotanya mengunduh APK Sambhar.

Beberapa cuitannya itu menyebut jika Polri telah membentuk buzzer di setiap polres di seluruh Indonesia. Secara terorganisasi, mereka saling follow di Instagram, Facebokk, dan Twitter yang berinduk pada satu akun utama, yaitu @alumnisambhar.

Sebelumnya, pihak kepolisian dengan tegas menyampaikan jika yang diunggah oleh akun @opposite6890 yang menuduh Polri sengaja membuat buzzer untuk mendukung  paslon Jokowi-Ma'ruf sangat tidak benar. Polri akan melakukan penelusuran lebih jauh terkait setiap konten yang diunggah tersebut.

Lantas apakah sebenarnya APK Sambhar itu sendiri? Dan bagaimana respons Polres di Malang Raya terkait kabar tersebut? Simak ulasan MalangTIMES dalam laporan berikutnya.