Foto Dokumentasi MalangTIMES
Foto Dokumentasi MalangTIMES

MALANGTIMES - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang secara bertahap terus merevitalisasi pasar rakyat. Pasalnya, belum semua dari 28 pasar tradisional yang ada di wilayah tersebut terkategori sehat. Pada 2019 ini, pemkot kembali menggelontorkan anggaran Rp 12,5 miliar untuk memperbaiki 4 pasar. 

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Malang Wahyu Setianto mengungkapkan, pasar-pasar tradisional yang sudah eksis itu dibangun kembali menjadi pasar sehat dan tertib ukur. "Memang kami akui bahwa banyak pasar yang membutuhkan perbaikan, karena sudah lama tidak dibangun. Tapi ini bertahap," ujarnya. 

Tahun ini, lanjut Wahyu, pihaknya sudah merencanakan adanya revitalisasi di empat pasar. Total anggaran yang dikucurkan mencapai Rp 12,5 miliar. Rinciannya, untuk Pasar Sukun Rp 6 miliar, Pasar Sawojajar Rp 3,5 miliar, Pasar Mergan Rp 2,4 miliar, serta Pasar Kasin Rp 600 juta. "Untuk Pasar Sukun dan Sawojajar menggunakan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Malang)," sebutnya. 

"Sementara untuk Pasar Mergan dan Kasin dari DAK (dana alokasi khusus kementerian) dan yang Kasin sesuai anggaran untuk perbaikan atapnya saja," tambahnya. Wahyu menyebut, pembangunan dengan dana yang ada masih belum bisa maksimal. Oleh karena itu, untuk pembangunan sarana penunjang lain, akan dilakukan menyusul. 

Saat ini, pembangunan Pasar Sukun sudah mulai dikerjakan. "Desainnya sudah dipaparkan dalam DED (detail engineering design). Ada beberapa saran dari dewan yang harus dilakukan pembenahan. Kalau sudah final, bawa ke ULP lalu dilelang," tuturnya. Sementara untuk pasar-pasar lain, juga masih dalam proses penyusunan DED. 

Wahyu menambahkan, perbaikan pasar-pasar rakyat itu berpatokan Standar Nasional Indonesia (SNI). Dalam waktu dekat, pihaknya akan memperbaiki kekurangan yang ada di beberapa pasar. Sebab, ada beberapa pasar masih belum ada fasilitas penunjang seperti ruang laktasi untuk ibu menyusui dan pos kesehatan. "Memang harus terpenuhi, dalam waktu dekat akan kami lengkapi. Lebih cepat, lebih bagus," tegasnya.

Fasilitas untuk ruang laktasi diberikan, seiring banyaknya para pedagang dan pembeli yang ada merupakan ibu-ibu yang sedang menyusui. "Dengan adanya ruang laktasi ini, ibu-ibu yang membawa bayi dapat menyusui dengan nyaman, tanpa harus terganggu orang lain," tuturnya.

Kemudian, akan ditambah juga fasilitas kesehatan pada pasar-pasar yang sudah berhasil direvitalisasi. "Sehingga saat ada pedagang maupun pembeli mengalami gangguan kesehatan saat berbelanja, langsung dapat ke fasilitas kesehatan," jelas Wahyu.

Kelengkapan fasilitas tersebut, akan disesuaikan dengan konsep sehat, dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). "Selain ruang kesehatan dan laktasi, ada beberapa kriteria juga menuju SNI. Seperti pengelolaan IPAL, saluran air yang bagus sehingga tidak becek ketika hujan. Ini sudah kami akomodasi," pungkasnya.