Wahyudi Siono (duduk sila) tersangka penipuan dan penggelapan saat diamankan polisi, Kecamatan Poncokusumo (Foto : Polsek Poncokusumo for MalangTIMES)

Wahyudi Siono (duduk sila) tersangka penipuan dan penggelapan saat diamankan polisi, Kecamatan Poncokusumo (Foto : Polsek Poncokusumo for MalangTIMES)



MALANGTIMES - Selama tiga tahun lamanya, Retiono warga Desa Belung Kecamatan Poncokusumo, seolah sudah jengah akan janji manis yang diberikan temannya. 

Lantaran tidak terima, pria yang kesehariannya bekerja sebagai pedagang itu, nekat melaporkan kawan dekatnya ke polisi.

“Korban melaporkan kepada kami, jika pihaknya menjadi korban penipuan dan pengelapan,” kata Kapolsek Poncokusumo, AKP Octa Panjaitan, Rabu (6/3/2019).

Berdasarkan informasi yang dihimpun MalangTIMES, kasus penipuan dan pengelapan itu menimpa korban pada bulan Mei 2016 lalu.

Ketika itu Retiono bertemu dengan temannya yang bernama Wahyudi Siono warga Dusun Pulungdowo Desa Glagahdowo, Kecamatan Tumpang.

Pertemuan keduanya terjadi di Dusun Wangkal Desa Argosuko Kecamatan Poncokusumo. 

Ketika itu, mereka tidak hanya melepas rindu karena lama tak bertemu. 

Namun kakek yang kini berusia 68 tahun itu, juga sempat minta tolong kepada pelaku, untuk merawat tiga ekor sapi jenis Brahma miliknya.

“Ketika mendapatkan tawaran tersebut, pelaku meminta uang senilai Rp 16 juta kepada korban. Alasannya untuk membuat kandang sapi,” sambung Octa kepada MalangTIMES.

Lantaran sudah kenal lama, korban seketika langsung mengiyakan permintaan pelaku.

Namun, ketika uang sudah diserahkan kenyataannya Wahyudi justru menghabiskan uang pemberian korban. 

Parahnya, beberapa hari setelah menerima uang dan sapi milik korban pria yang kini berusia 36 tahun itu justru menjualnya.

“Kasus ini terungkap saat korban hendak melihat kondisi sapi yang dirawat pelaku. Saat itu tersangka mengaku jika sapi milik korban sudah dijual. Bahkan uang untuk membuat kandang dan hasil menjual sapi tidak diserahkan kepada korban,” terang Octa.

Mendengar pengakuan tersebut, Retiono kemudian mencoba meminta pertanggungjawaban dari pelaku. 

Lantaran tidak punya uang Wahyudi saat itu hanya menyanggupi dan berjanji akan segera mengembalikan uang serta ganti rugi sapi yang sudah dia jual. 

“Kesepakatan antara keduanya sempat tertulis dalam sepucuk surat pernyataan, yang menyatakan kesanggupan tersangka untuk menganti uang dan hasil penjualan sapi kepada korban,” ujar Octa.

Dari surat pernyataan yang ditulis ke dalam sepucuk kertas folio tersebut tersangka mengaku sudah menjual tiga ekor sapi milik korban seharga Rp 46 juta. 

Bahkan pihaknya juga mengaku jika menggunakan uang senilai Rp 16 juta yang semula untuk membangun kandang, untuk keperluan pribadinya. 

Dalam surat pernyataan tersebut, pelaku menyepakati untuk mengembalian uang kepada korban dengan total kerugian Rp 62 juta.

Pada surat pernyataan yang dibubuhkan materai dan tanda tangan tersebut, menunjukkan jika jatuh tempo pembayaran berakhir pada 8 Agustus 2017. 

Jika pada tanggal yang sudah disepakati, pelaku tidak segera melunasi. Maka pihaknya bersedia untuk diproses secara hukum.

Kenyataannya, hingga lebih dari waktu yang sudah ditentukan Wahyudi hanya memberi janji manis dan sama sekali tidak ada itikat baik untuk membayar kerugian yang dialami korban. 

Hingga akhirnya Retiono yang saat itu merasa geram, akhirnya memilih untuk melaporkan ke Polsek Poncokusumo.

Mendapatkan laporan, beberapa personel dikerahkan ke lapangan untuk melakukan penyelidikan. 

Meski sempat mengelabuhi polisi, pelaku akhirnya bisa diringkus pada Selasa (5/3/2019).

“Tersangka selama ini memang menjadi buronan polisi, yang bersangkutan kami amankan saat berada dirumahnya. Akibat perbuatannya, tersangka dijerat pasal 378 juncto pasal 372 KUHP, tentang penipuan dan penggelapan,” tegas perwira polisi dengan pangkat tiga balok dibahu ini.

Di hadapan penyidik, Wahyudi mengakui semua perbuatannya. 

Bahkan pihaknya tidak mengelak saat ditunjukkan barang bukti berupa surat pernyataan yang dia tanda tangani. 

“Uang yang saya dapat dari dia (korban) untuk membangun kandang dan hasil penjualan sapi, saya gunakan untuk foya-foya dan keperluan pribadi. Sehingga sudah habis tak tersisa,” kata Wahyudi saat dimintai keterangan polisi.

End of content

No more pages to load