Emil Dardak saat berbincang dengan Kepsek SMAN 8. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Emil Dardak saat berbincang dengan Kepsek SMAN 8. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Selama kurang lebih 46 tahun, SMAN 8 Kota Malang ternyata menempati lahan milik Universitas Negeri Malang (UM). Lantaran UM akan memakainya untuk pengembangan pendidikan vokasi, mau tak mau, apabila datang waktunya nanti SMAN 8 pun harus angkat kaki. "Bagi UM ini adalah temuan BPK. Karena ini adalah asetnya UM," ujar Kepala Sekolah SMAN 8 Kota Malang Anis Isrofin.

Anis sendiri telah menemui Rektor UM Rofiuddin. Lantaran sifatnya pinjam, kalau memang provinsi belum bisa memberikan lahan pengganti untuk SMAN 8 maka UM akan tetap meminjamkannya. Namun, dengan catatan, kalau sewaktu-waktu UM mengadakan pengembangan, SMAN 8 harus siap.

"Tanah yang ditempati SMA 8 merupakan tanah milik UM. Harus kembali ke UM untuk pengembangan," paparnya.

Untuk itu, Kepala Sekolah SMAN 8 meminta solusi kepada pemerintah provinsi Jawa Timur mengenai persoalan ini. Anis juga menyampaikannya kepada Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak sewaktu ia mengunjungi SMAN 8 kemarin (4/2).

"Oleh karena itu itu saya menyampaikan kepada Pak Emil tadi supaya segera ditindaklanjuti, karena ini memang tanahnya UM," terangnya.

Sementara itu, mengenai persoalan ini, Emil Dardak menyampaikan ia akan merundingkan dulu dengan pihak terkait.

"Ini saya baru mau ngajak kepala cabdin sama kepala sekolah untuk kita membahas dengan badan keuangan daerah dengan bagian biro pemerintahan untuk memantabkan ini. Jadi kalau saya bicara sekarang nanti mendahului pembicaran serius yang kita lakukan terkait tindak lanjut," jelasnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa kasus serupa pasti banyak terjadi. Lantaran terdapat ikatan sejarah dan rekam jejak panjang yang berjalan seiring dengan keberadaan suatu fasilitas pendidikan, ia ingin semua pihak menyikapi dengan hati terbuka dan pikiran yang jernih.

"Kita ingin semua pihak menyikapi ini dengan hati terbuka, dengan pikiran yang jernih. Kita cari solusi yang terbaik, bukan solusi yg hanya mengedepankan kedudukan formalnya," pungkasnya.

End of content

No more pages to load