MALANGTIMES - Warga di wilayah Malang Raya mesti lebih waspada terhadap peredaran uang palsu (upal). Pasalnya, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang menemukan peningkatan jumlah upal di awal 2019 ini dibanding periode yang sama tahun lalu. 

BI Malang mencatat pada Januari-Februari 2019 ini sudah ada temuan 1.245 upal. Sementara pada dua bulan pertama 2018 lalu, jumlahnya hanya 1.033 lembar. 

"Jumlahnya ternyata tiap tahun meningkat, mudah-mudahan ini tidak berkaitan dengan tahun politik," kata Ketua Tim Sistem Pembayaran, Pengedaran Uang Rupiah, Layanan dan Administrasi KPwBI Malang, Rini Mustikaningsih. 

Rini menyebut, temuan upal di wilayah Malang Raya dan Pasuruan mengalami peningkatan setiap tahun. Berdasarkan data BI Malang, jumlah temuan uang palsu di tahun 2017 sebanyak 5.835 lembar. Sementara pada 2018, temuannya meningkat menjadi 7.827 lembar.

Pada Januari 2019 temuannya sebanyak 589 lembar, angka itu hampir sama dengan periode Januari 2018 sebanyak 592 lembar. Sedangkan Februari 2019 temuannya mencapai 656 lembar, jumlah itu meningkat dibandingkan periode yang sama di tahun 2018 sebanyak 441 lembar.

Upal tersebut rata-rata merupakan temuan berasal dari bank umum. Untuk memastikan keaslian rupiah, kini Bank Indonesia telah menerapkan prosedur menggunakan sistem online bernama Bank Indonesia Counterfeit Analysis Center. Melalui sistem itu, bank umum melakukan input data uang yang diragukan keasliannya.

"Setelah di-input mereka tetap membawa fisik uang yang diragukan keasliannya ke BI  untuk memastikan apakah benar uang itu palsu. Rata-rata kita dapat dari bank umum dari Malang Raya dan Pasuruan. Kalau dari Probolinggo tidak terlalu besar," ungkap Rini.

Selain dari bank umum, BI Malang juga membantu pihak kepolisian melakukan pengecekan keaslian rupiah dari hasil temuan polisi. "Kasir kami juga ada yang diminta Reskrim Polres Pasuruan untuk memastikan apakah temuannya merupakan uang asli atau tidak," imbuh Rini.

Untuk mengantisipasi peredaran upal, khususnya di tahun politik seperti saat ini, BI terus berupaya melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai 3D, yakni Dilihat, Diraba, dan Diterawang. "Selain 3D, kami juga gencar sosialisasi pada masyarakat agar selalu memperlakukan uang dengan baik, karena uang juga merupakan lambang negara. Prosedur mencetak uang juga lama," tegasnya.

Sosialisasi memperlakukan uang dengan baik meliputi 5J, yakni jangan jangan dilipat, jangan di-stapler, jangan dicoret, jangan dibasahi, dan jangan diremas. "Itu yang kita viralkan, sehingga apabila mereka sudah memelihara uang dengan baik, nilai edar uang juga bisa laku dalam kurun waktu yang lama," pungkas wanita berkacamata ini.

End of content

No more pages to load