MALANGTIMES - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah yang sejak tahun 2004-2016 mengendarai Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kembali melontarkan bola panas kepada rumah politiknya sendiri setelah terjadi ketidakcocokannya dengan para pimpinan PKS yang berujung pada pemecatannya. 

Walau akhirnya, Fahri melenggang menang setelah dirinya menaikkan persoalan tersebut di ranah hukum.

Kini, kembali Fahri memberi api ke PKS. Dengan pernyatannya yang mengatakan, dirinya memprediksi PKS tidak akan bisa lolos ambang batas parlemen 4 persen pada pemilu 2019.

"Berat. Jadi ya enggak bakal lolos lah, berat. Meskipun saya percaya Pak Prabowo menang karena arus bawah, tetapi PKS berat," kata Fahri kepada beberapa media.

Pernyataan Fahri, sebenarnya juga telah diuji coba melalui survei oleh beberapa lembaga survei. Misalnya, Roda Tiga Konsultan (RTK) yang menyampaikan hasil surveinya atas partai politik yang lolos dan belum  aman dan tidak lolos Threshold. Dimana  ada 4 partai yang diambang batas, antara lolos dan tidak lolos dengan rentang margin of error ± 2,5 persen. Parpol tersebut  adalah PPP, PKS, Nasdem dan PAN. 

Hampir sama dengan hasil hasil survei Lingkaran Survei Indonesia Denny JA. Dimana elektabilitas PKS belum aman untuk lolos ke DPR periode 2019-2024. Hal ini berasal dari  survei pada 18-25 Januari 2019 terhadap 1.200 responden di 34 provinsi di Indonesia, elektabilitas PKS sebesar 4 persen. Angka tersebut belum aman lantaran ada margin of error sebesar 2,8 persen. Artinya, angka tersebut bisa bertambah atau berkurang 2,8 persen.

Sedangkan Fahri mengatakan, dirinya menyatakan bahwa PKS berat untuk lolos bisa dilihat dari cara elit PKS yang mengelola partai tersebut.

"Kalau yang dibangun kultur pimpinan PKS sekarang nih susah. Ngurus DKI saja enggak beres-beres, banyak masalah, yang enggak sanggup kerjakan akhirnya mecat-mecatin orang. Nih, sekarang bagaimana saya mau prediksi PKS lolos threshold? Sementara menjelang pemilu ini dia lakukan dua hal," urai Fahri.

Dua hal yang disebut Fahri tersebut adalah, pertama seluruh caleg yang maju dari PKS diminta menandatangai surat pengunduran diri dengan tanggal kosong. Sedangkan kedua, para kader juga diminta untuk menandatangani kesetiaan ulang terhadap PKS.

"Ini bisa mematahkan semangat para caleg. Cara ini membuat pimpinan bisa tinggal memberikan tanda tangan untuk diserahkan ke KPU. Langsung Anda gugur itu," ujarnya yang kembali menegaskan, "Jadi ya enggak bakal lolos lah, berat. Meskipun saya percaya Pak Prabowo menang karena arus bawah, tetapi PKS berat," ujarnya.

Bukan sekali dalam panasnya Pemilu 2019 ini Fahri 'ngompori' partainya sendiri walaupun sudah tidak sejalan. Dirinya juga menyampaikan PKS pernah mendekati Jokowi dan incar kursi Wakil Presiden. Bahkan Koboi Parlemen tak berpartai ini juga pernah mengatakan di tahun 2018, kalau PKS memimpin, bisa rusak negara.

"Perihal sami'na wa atho'na (kami mendengar dan kami taat) di dalam PKS. Prinsip ini membuat anggota PKS abai terhadap hukum negara dan hanya mendengarkan apa yang diucapkan oleh pimpinan PKS. Itu yang salah dan enggak boleh, enggak boleh orang berpartai begini, rusak partainya. Nanti kalau memimpin negara rusak negaranya," ucapnya.

Dikesempatan berbeda, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid, mengatakan, tidak ingin terlalu menanggapi pernyataan Fahri. Pasalnya, hasil survei sejumlah lembaga menunjukkan sebaliknya.

Dirinya menyatir ada empat sanpai lima lembaga survei yang telah menyebutkan partainya sudah lolos ambang batas parlemen yaitu 4 persen. "Bahkan ada yang menyebut sudah di atas 5 persen," ucapnya.