Salah satu kejadian tanah longsor di Kelurahan Bunulrejo, Kota Malang (Foto: Dokumen MalangTIMES)

Salah satu kejadian tanah longsor di Kelurahan Bunulrejo, Kota Malang (Foto: Dokumen MalangTIMES)



MALANGTIMES - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mencatat kerugian yang dialami masyarakat akibat bencana alam mencapai Rp 6,7 miliar sepanjang Februari 2019. Angka itu akibat 22 kejadian bencana yang didominasi tanah longsor. 

Jika dibandingkan dengan kejadian sepanjang Januari 2019 lalu, nilai kerugian akibat bencana mengalami kenaikan drastis. Pasalnya, pada bulan pertama tahun ini nominal kerugian tercatat Rp 191 juta dari 19 kejadian bencana.

Dalam dua bulan tersebut, tanah longsor masih mendominasi. Pada Januari, total ada 7 tanah longsor. Sementara pada Februari, frekuensi kejadiannya naik menjadi 13 kali dengan titik-titik yang berbeda. "Memang tanah longsor yang paling banyak terjadi, karena kan wilayah Kota Malang dilewati lima sungai besar. Dan banyak masyarakat yang membangun di tepi sungai," ujar Sekretaris BPBD Kota Malang Tri Oky Rudianto. 

Oky menguraikan, Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BPBD Kota Malang mencatat ada juga 1 kejadian kebakaran, 2 kali pohon tumbang, 2 kali banjir dan genangan air, 3 kali kejadian angin kencang dan 1 kali gempa bumi. "Untuk gempa ini, tercatat tapi tidak ada laporan masuk mengenai kerusakan signifikan yang disebabkan gempa," tuturnya. 

"Total kerugian material yang terdata mencapai Rp 6,7 miliar," sebutnya. Selain kerugian material, lanjut Oky, bencana yang terjadi pada Februari lalu juga menimbulkan 4 korban luka-luka dan 1 orang mengungsi akibat longsor. "Empat orang terluka itu akibat tertimpa pohon tumbang," sebutnya.

Dia mengakui bahwa ada kenaikan intensitas bencana yang terjadi. Meski dinilai tidak signifikan, tetapi data tersebut menguatkan asumsi bahwa kondisi cuaca berpengaruh banyak. "Faktor utamanya masih cuaca ya. Kan sepanjang Februari, dan diperkirakan sampai Maret ini hujan deras dan angin kencang masih potensial terjadi," paparnya. 

Oky juga berharap masyarakat kian sadar akan potensi dan kerawanan bencana. Terutama agar warga terus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan adalah hal utama guna meminimalkan risiko bencana. "Mitigasi bencana dimulai dari diri sendiri kemudian keluarga sampai ke lingkungan masing-masing. Kenali bahayanya dan pahami bencananya, terutama di sekitar lingkungan terdekat," pungkasnya. 

End of content

No more pages to load