MALANGTIMES - Cerita Puisi (1)

*dd nana

- Kami, para puisi menyatakan diri. Bukan sebagai tunggangan perang untuk mencari kursi. Hal-hal yang berisik dan mengusik kami, dimohon secara seksama dan secepatnya di kebumikan dalam hati. Karena awal ada kami adanya di hati - 

1/ Anggap Saja Muasal

Dulu, kami adalah sunyi yang dihindari kepala-kepala yang enggan bersemedi. Kami adalah aksara-aksara yang menghuni dada lelaki yang kami sebut bapak. Dada yang tak pernah bisa dimasuki nenek moyang api.

Itu, sebelum bayangan meresahkan lelaki itu. Bayang yang bayang-bayang dan akhirnya menjelma yang serupa. Yang beda dengan segala yang awalnya ada di taman yang kau sebut mulai menjemukan itu.

"Aku ingin lawan yang tidak sejenis." Ucapnya berulang-ulang, serupa doa yang demam di musim penghujan.

Kami, mulai diusik dan terusik. Sang perempuan bukan hanya menawarkan warna dan aroma asing di panca indera lelaki yang kami sebut bapak itu. Tapi juga suara dan aksara asing dalam konsonan rapat abjad-abjad pendek yang diulang-ulang.

Kami pun akhirnya mengenal rahim lain yang lebih asing. Lebih riuh dari protes makhluk-makhluk suci di taman yang kelak kau akan tahu sendiri.

"Tapi, percayalah kami masih menyukainya. Karena di rahim itu selalu ada sepi yang menyisir sunyi. Rahim awal kami. Sungguh kami masih nyaman di sana."
2/Anggap Saja Kuruksetra

Padang yang bukan ilalang, tapi begitu lapang. Dan kami terlempar sebagai makhluk yang harus ngembara menemani putaran bumi.

"Tapi udara di sini serupa kuku elmaut. Hitam, anyir dan membuat perut kami begitu mual. Tapi percayalah kau tidak akan pernah bisa memuntahkan apapun dari mulutmu. Hanya udara hampa yang menggigit perutmu."

Kuruksetra, aksara yang membentuk petaka sekaligus awal cahaya. 

Kami tidak berdaya. Diikat berbagai sumpah yang menyatukan tanah dan langit. Sumpah para lelaki dan perempuan suci yang terbakar api dunia.

"Percayalah nenek moyang api tidak pernah tidur. Dia juga yang membuat kami hijrah ke rahim-rahim lain."

Di Kuruksetra, kami menjadi tombak yang mengurai usus manusia. Parang yang haus atas alir darah. Mata panah yang membuat mata para istri dan ibu mengeluarkan darah.

Sungguh, kami tak berdaya dan berharap selekasnya menutup mata. Tertidur di kepala lelaki yang kami sebut bapak. Atau pada mereka yang sedang dibutakan cinta karena di dada mereka ada sunyi yang siap lahir.

Di padang lapang tanpa ilalang selain jerit perang, kami tersesat berulang-ulang. Percayalah, kami ingin pulang.

3/ Anggap Saja Kami Sedang Begitu Riang

Ada masa kami serupa remaja. Mengalun bersama riak riang gelombang waktu. Dan mengendap di pesisir lapang yang telah lama dibawa kepala-kepala berambut gondrong. Yang mulutnya berceloteh dengan riang tentang alam, rahsa, langit, bunga-bunga dan cinta.

Yang matanya terus mencari ruang-ruang sepi dan sunyi. Walau telah memerah bola mata mereka, tapi keteduhan juga berteduh di sana. Begitu riang.

Percayalah, kami begitu riangnya. Walau akhirnya waktu begitu iri kepada kami. Diutuslah, sang jenderal besar.

Percayalah, kami ingin secepatnya pulang. Tapi Tuhan ingin kami memiliki kenangan. Agar tetap bisa hidup dan menghidupi segala yang ada.

"Tetaplah menjadi hambaku. Jangan cengeng walau kalian bukan nabi yang Aku utus di dunia."

Percayalah, tuan dan puan, kami kerap terisak-isak melihat para kepala dan dada para lelaki dan sebagian kecil dari kaum perempuan pecah. Dihantam palu-palu kekuasaan yang matanya telah lama digadaikan pada para api.

"Percayalah nenek moyang api tidak pernah tidur. Dia juga yang membuat kami hijrah ke rahim-rahim lain."

Kami masih mencoba riang dalam erang kesakitan mereka. Mereka serupa Bisma yang setia. Tak melepas sumpah yang menghidupinya walau akhirnya maut menjemputnya dengan paras-paras ragu.

"Percayalah ini takdir kami untuk mencabut mereka. Walau gigil jemari dan gigi kami gemelutuk menahan nyeri."
Dimana Thukul ?

* Hanya penikmat kopi