Belum Masuk Masa Panen, Harga Beras di Kota Malang Cenderung Naik

MALANGTIMES - Badan Pusat Statistik (BPS) memperingatkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang agar mewaspadai kenaikan harga beras pada Maret 2019 ini. Pasalnya, sejumlah daerah pemasok beras masih belum memasuki masa panen, ditambah adanya kemungkinan gagal panen sebagai imbas cuaca buruk. 

Kasi Statistik Distribusi BPS Kota Malang Dwi Handayani Prasetyowati mengungkapkan bahwa kenaikan harga beras masih tetap diwaspadai. Meskipun, pada Februari lalu Kota Malang mengalami deflasi dengan angka 0,42 persen. "Harga beras masih tergolong tinggi. Apalagi kan Kota Malang ini bukan produsen ya, tetapi konsumen yang mendapatkan pasokan dari daerah sekitar," terangnya. 

"Beberapa hal yang perlu diwaspadai adalah pengamanan stok beras. Karena indikasinya harga beras mulai merangkak naik walaupun saat ini masih terbilang kecil," tambahnya. Terbukti, komoditas bahan pokok tersebut menjadi salah satu penghambat deflasi di bulan Februari 2019. Kontribusi ke arah inflasi 0,0172 persen, karena harganya naik sebesar 0,48 persen. 

Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Kota Malang, ada tiga jenis beras yang terdata. Terbaru, harga beras Bengawan Rp 11.200 per kilogram, beras Mentik Rp 10.700 per kilogram dan beras IR 64 R 10.300 per kilogram. 

Dari tiga jenis itu, hanya beras Bengawan yang mengalami kenaikan harga selama sebulan terakhir. Pasalnya pada awal Februari lalu, terpantau harganya Rp 10.900 per kilogram. Sementara harga dua jenis lainnya cenderung stabil. 

Meski demikian, BPS memprediksi harga beras akan mulai turun pada April mendatang seiring datangnya masa panen. "Bulog mengatakan stok cukup, sampai saat ini harga beras masih mahal, naiknya lebih tinggi dibandingkan bulan kemarin.  Mudah-mudahan tidak sampai ada kelangkaan barang," kata Dwi. 

Ia menambahkan, jika nantinya harga beras dan stoknya mengkhawatirkan, maka Bulog akan segera melakukan Operasi Pasar (OP). Melalui OP tersebut, diharapkan dapat mengendalikan harga beras yang terus naik.

Perum Bulog Sub Divre Malang sepanjang 2018 lalu telah mengalokasikan 42.900 ton beras. Namun, yang terserap hanya 42,61 persen atau 18.278 ton. "Walaupun ada operasi pasar orang enggan membeli, ketika barang langka, pasti masyarakat akan mengambil beras dari OP itu," pungkasnya.

Top