Cabai rawit menjadi salah satu komoditas penyumbang deflasi di Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Cabai rawit menjadi salah satu komoditas penyumbang deflasi di Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Kota Malang mengalami deflasi terendah di Jawa Timur (Jatim) dengan angka 0,42 persen pada Februari 2019. Kondisi ini berbalik drastis dibanding setelah pada Januari lalu sempat mengalami inflasi tertinggi di Jatim dengan angka 0,53 persen. Turunnya harga sejumlah komoditas utama membuat perekonomian di kota pendidikan itu cenderung membaik.

Meski demikian, deflasi juga terjadi secara nasional yakni di angka 0,08 persen. Sementara Jatim, juga mengalami deflasi 0,18 persen. Kasi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Dwi Handayani Prasetyowati mengatakan, ada empat penurun harga komoditas yang mempengaruhi deflasi di Kota Malang pada Februari 2019. 

Yang paling banyak berpengaruh, yakni penurunan tarif angkutan udara sebesar 8,62 persen, daging ayam ras 10,44 persen, harga telur ayam ras 30,94 persen, serta harga cabai rawit dengan penurunan 13,04 persen. "Selain komoditas itu, ada beberapa barang lain yang harganya turun seperti cabai merah, daging sapi, sabun mandi, ikan lele, tauge, dan bensin," kata Dwi, hari ini (1/3/2019) dalam rilis bulanan BPS. 

Meski mengalami deflasi, lanjutnya, masih ada beberapa komoditas yang menjadi penghambat. Di antaranya kenaikan harga sewa rumah sebesar 1,8 persen, bawang putih 10,31 persen, tomat sayur 17,10 persen, dan kenaikan harga beras sebesar 0,48 persen. "Tetapi kenaikan itu tidak sebanding dengan penurunan harga sejumlah komoditas penyumbang deflasi, sehingga Kota Malang mengalami deflasi di bulan Februari," tuturnya.

Terkait prediksi di bulan Maret 2019, Dwi menilai jika berdasarkan tren tahun sebelumnya, setelah mengalami deflasi, biasanya Kota Malang akan mengalami inflasi. Berdasarkan catatan BPS Kota Malang, inflasi Maret di tahun 2011-2019, rata-rata inflasinya berada di angka 0,21 persen. "Berdasarkan catatan di 2013 hingga 2016, inflasi Maret lebih besar dibandingkan inflasi Februari, sedangkan di 2017 hingga 2018, inflasi Maret lebih kecil dibandingkan Februari," pungkasnya.

End of content

No more pages to load