Ilustrasi teknologi canggih (Foto : Youtube)

Ilustrasi teknologi canggih (Foto : Youtube)



MALANGTIMES - Di zaman modern yang serba cangih seperti saat ini hubungan antara manusia dan teknologi semakin tidak bisa dipisahkan. 

Dengan perkembangan teknologi, beberapa pekerjaan yang dilakukan manusia terasa lebih mudah.

Namun, dari sekian banyaknya inovasi dan penemuan teknologi, tidak semuanya bisa dikatakan sukses. 

Bahkan, seiring berjalannya waktu, temuan teknologi juga mengalami kepunahan.

Terdapat beberapa faktor, salah satunya karena kalah saing dan kalah dalam bidang penjualan.

Hal inilah yang memguatkan jika di dunia ini tidak ada yang abadi.

Merujuk pada chanel youtube SKILL DEWA, berikut tujuh kisah memilukan yang terjadi dalam bidang teknologi di tahun 2018, yang berhasil dirangkum MalangTIMES.
 

1. Path

Seperti yang sudah santer diberitakan pada 17 September 2018 lalu, Path dikabarkan memutuskan untuk memberhentikan layanan kepada penggunannya. 

Hingga akhirnya pada bulan berikutnya, atau tepatnya pada 18 Oktober 2018, Path akhirnya memutuskan resmi ditutup.

Sebagai informasi, Path lahir pada bulan November 2010. 

Salah satu media sosial (medsos) yang sempat booming dizamannya ini, dipromotori oleh mantan petinggi Facebook yakni Shawn Fanning dan juga Dave Morin.

Diawal keberadaannya, Path bisa dikatakan salah satu jejaring sosial yang paling sukses.

Berdasarkan pendalaman yang didapat MalangTIMES, pada bulan Desember 2011, pengguna Path mengalami lonjakan yang pesat.

Dari yang semula hanya ada di kisaran 30 ribu akun, dalam waktu kurang dari satu bulan tercatat ada 300 ribu pengguna Path.

Semula layanan Path diketahui berupa platform berbagi foto ke 50 orang teman. 

Hal ini yang menjadikan alasan kenapa Path sangat digandrungi oleh penikmat media sosial.

Sebab, kebijakan tersebut membuat privasi dan teman dekat seseorang terjaga.

Seiring berjalannya waktu, kebijakan itu diubah.

Path diketahui menambah angka pertemanan menjadi 150 orang, lalu 500 akun,  dan terus bertambah hingga jumlahnya akhirnya tak terbatas.

Pada 2014 lalu, Bakrie Group dan sederet venture yang digandeng, menjadi salah satu penyokong dana terbesar di Path dengan nominal mencapai 25 juta dolar.

Di Indonesia sendiri memang bisa dikatakan sebagai salah satu negara dengan pengguna Path terbanyak. 

Diketahui sedikitnya ada 4 juta pengguna. Namun tahun 2015 lalu, Path sudah diakuisisi oleh Daum-Kakao, yang merupakan raksasa teknologi Korea Selatan.

2. Yahoo! Messenger

Generasi 2.000-an, tentunya sudah tidak asing lagi dengan layanan Yahoo! Messenger (YM). 

Iya salah satu inovasi dibidang teknologi ini memang sudah lama berjasa menjadi platform messaging yang memudahkan dalam berkirim pesan.

Wajar saja, pada eranya masyarakat luas memang belum mengenal BBM, LINE, iMessage, atau pun WhatsApp. 

Sebagian besar masyarakat dulu masih menggunakan Yahoo! Messenger di desktop maupun smartphone, untuk mengirim pesan (chating)

Namun ketika Yahoo! diakuisisi oleh Verizon, semuanya terasa berubah. 

Puncaknya pada 17 Juli 2018 lalu, YM memutuskan untuk berhenti beroperasi.

Belakangan tersiar kabar, jika Yahoo! saat ini sedang fokus untuk mengembangkan layanan baru yang masih berkaitan dengan platform komunikasi sejenis messaging.

3. iPhone SE, iPhone 6s, dan iPhone X

Sebagian besar dari kita tidak ada yang menyangka jika perusahan sebesar IPhone juga mengalami masa yang memilukan. 

Tepatnya pada gagasan perusahaan yang memiliki logo buah apel ini, untuk meluncurkan smart phone yang berukuran mungil.

Ketika ditanya terkait masa depan iPhone SE, iPhone X serta iPhone 6s pada pertengahan September 2018 lalu, pihak perusahaan sepertinya mulai merasa pesimis dengan keberadaan ketiga produk tersebut.

Padahal, di beberapa bulan sebelumnya, sempat tersebar rumor jika generasi kedua dari iPhone SE yang dirilis pertama pada 2016 ini, bisa menjadi trobosan bagi smartphone dengan ukuran minimalis.

Namun diketahui saat ini tidak ada iPhone SE yang diluncurkan kembali. 

Kenyataannya hanya iPhone XS, si jumbo XS Max, serta si budget XR yang dirilis.

Dengan adanya tren smartphone dengan ukuran lebar ini, membuat strategi untuk merilis iPhone SE di 2016 bukanlah ide bagus. 

Jika melihat data, angka penjualannya selalu mengalami penurunan, dan kalah saing dengan penjualan iPhone 6, 6s, dan 6S Plus.

Terkait alasan iPhone X yang tak lagi diproduksi, terdapat beberapa kemungkinan. Salah satunya lantaran Apple kini sudah memiliki iPhone XS dan XS Max yang jauh lebih baik dari segi kualitas. Termasuk pada aspek desain, fitur, dan spesifikasi.

Hal inilah yang membuat tidak ada lagi alasan untuk lanjut memproduksi iPhone X. 

Hal yang sama juga berlaku pada iPhone 6s yang umurnya bahkan sudah menginjak 3 tahun, sejak awal resmi dirilis ke pasaran.

4 . Google

Siapa yang tidak mengenal Google?. Iya, layanan ini memang selalu bisa menjelaskan sekaligus memunculkan apa yang hendak kita cari tahu.

Saking banyaknya, sebagian besar masyarakat yang menyebut layanan pencarian ini dengan istilah “Mbah Google”.

Namun, pada 2018 lalu, bisa dikatakan sebagai tahun dimana pelecehan seksual marak diperbincangkan di kalangan masyarakat. 

Saking getolnya, sampai muncul berderet pergerakan yang dilakukan oleh warganet. Salah satunya memalui #MeToo.

Tidak hanya di dunia pangung hiburan, pergerakan ini juga mencanangkan untuk diberantasnya pelecehan seksual di tempat kerja. Salah satu yang terkena imbasnya adalah Google.

Diketahui, Direktur Utama Google, Sundar Pichai mengatakan jika perusahaan raksasa teknologi itu baru saja memecat 48 karyawan dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Hal ini menyusul akan ramainya laporan pemberitaan perihal Andy Rubin yang tersandung kasus pelecehan seksual. 

Salah satu tokoh besar dalam terciptanya Android ini, digadang-gadang telah menerima pesangon senilai USD 90 juta ketika angkat kaki dari Google.

Pemecatan itu disinyalir lantaran seorang karyawan Google menuduhnya melakukan pelanggaran seksual. 

Meski demikian, Pichai menegaskan jika tidak satu pun karyawan dari 48 yang dipecat, menerima bonus seperti yang didapatkan Andy Rubin.

Permasalahan akan pelecehan seksual di Silicon Valley dan dunia teknologi, termasuk Google telah menjadi masalah besar selama bertahun-tahun lamanya.

Belakangan diketahui, sekitar 90 persen perempuan di industri ini mengaku, jika mereka menyaksikan perilaku seksual di lingkungan kerja maupun pada saat agenda konferensi perusahaan.

Selain itu, pada proyek survei yang disebut Elephant in the Valley, menunjukkan jika 65 persen perempuan telah melayangkan laporan jika pihaknya telah menerima "bonus" dari atasannya karena alasan seksual. 

Bahkan hasil survei menunjukkan jika setengah dari mereka menerima 'pesangon' lebih dari satu kali.

5. Facebook

Facebook memang menjadi jejaring sosial terbesar yang ada saat ini. 

Namun, sudah menjadi rahasia umum jika perusahaan yang diciptakan oleh Mark Zuckerberg ini, pernah mengalami skandal kebocoran data privasi pengunanya.

Hal ini terjadi setelah Cambridge Analytica menggunakan data dari jutaan akun facebook, untuk mempengaruhi hasil pemilu Presiden Amerika Serikat (AS) pada 2016 lalu.

Sebagai informasi, Cambridge Analytica sendiri merupakan perusahaan yang dimiliki oleh Robert Mercer. 

Sejak 2014 silam, Cambridge Analytica mengembangkan sebuah teknik untuk mendapat data Facebook dari kuis kepribadian.

Tipe kuis yang sempat populer di Facebook ini dikerjakan oleh perusahaan pihak ketiga, yakni Global Science Research. 

Kuis ini menggunakan algoritma yang secara personal memprofil dan menarget pengguna Facebook yang berada di usia pemilih.

Hal inilah yang membuat pengguna yang memiliki teman di Facebook yang juga menggunakan aplikasi uji kepribadian bernama thisisyourdigitallife tersebut bakal secara otomatis akan terkoneksi dengan Global Science Research. 

Hal itu membuat oknum tidak bertanggungjawab ini dapat mengakses data pribadi pengguna Facebook.

Parahnya, banyak sekali pengguna Facebook di AS yang bersedia dibayar untuk menggunakan aplikasi ini. 

Hasilnya teman-teman mereka yang menggunakan aplikasi ini akhirnya juga dapat diakses datanya.

Data pribadi ini juga bisa melacak apa saja yang disukai, dibagikan, dari situs Facebook. 

Dengan data yang dibangun dari like ini saja, algoritma yang dikembangkan Cambridge Analytica bisa mengetahui berbagai hal seperti ras, gender, orientasi seksual, bahkan trauma masa kecil hingga kerentanan terhadap jenis narkoba tertentu.

Hal ini membuat data-data yang cukup valid dan detil dari banyak akun profil di Facebook, yang dikelola Cambridge Analytica bisa merancang profil detil berdasarkan data tersebut, yang kemudian akan dicocokkan dengan catatan pemilik akun.

Dengan demikian, oknum tidak bertanggungjawab tersebut akan tahu sang calon pemilih ini akan menentukan pilihan terhadap siapa. 

Secara garis besar menyatakan jika memilih Trump bukanlah suatu masalah. Namun jika cenderung memilih Hillary, mereka akan membuat sistem periklanan yang akan tampil di timeline sang pemilih, dengan tujuan untuk mengubah pandangan mereka agar memilih Trump.
 

6. GoPro Karma

Tahun 2018 silam, menjadi momen kekalahan bagi GoPro Karma dalam industri drone. 

Hal ini terjadi setelah GoPro dikabarkan memecat ratusan karyawannya dari divisi drone Karma.

Keputusan yang diambil GoPro ini, merupakan kebijakan setelah kesulitan mendapatkan keuntungan di pasar drone yang terbilang sangat kompetitif. 

Drone Karma sendiri dianggap sebagai pilihan kedua dari DJI (Perusahaan Drone).

Saat ini, DJI bisa dibilang sangat menguasai pasar. Dengan berbagai variasi produknya, membuat GoPro karma kian tersingkir dalam persaingan penjualan drone dipasaran.

Salah satu alasan lainnya adalah dikuranginya pasar penjualan Karma di Eropa dan AS.

Kebijakan ini merupakan keputusan yang justru menjatuhkan nama Karma di mata konsumen.

7 . Google Plus

Setelah sempat mengakui jika Google Plus mengalami ratusan ribu kebocoran data pribadi penggunanya akhirnya membuat Google Plus diputuskan jika akan ditutup.

Menyeruak kabar,  jika penyebab kebocoran data pengguna ditengarai berasal dari sebuah bug (eror) API (Application Programming Interface) di dalam platform. 

Bug tersebut bisa memberikan akses kepada pengembang aplikasi pihak ketiga untuk mengakses profil dan data pribadi pengguna Google plus.

Tercatat ada sekitar 500 ribu akun pengguna yang datanya bocor, dan 438 aplikasi dari pihak ketiga yang memungkinkan bisa dengan leluasa mengakses data pribadi pengguna dari bug tersebut. 

Adapun data yang bocor meliputi nama pengguna, alamat email, pekerjaan, jenis kelamin, dan usia.

Sampai saat ini, tidak dapat dipastikan apakah Google plus bakal kembali beroperasi atau bahkan benar-benar dimatikan secara permanen.

End of content

No more pages to load