Kanan : Kepala Bappeda Kabupaten Malang Tomie Herawanto dalam suatu acara sosialisasi (Nana)

Kanan : Kepala Bappeda Kabupaten Malang Tomie Herawanto dalam suatu acara sosialisasi (Nana)



MALANGTIMES - Euforia masyarakat Kabupaten Malang menggali potensi wilayahnya di sektor pariwisata terbilang tinggi. Hal ini selain ditunjang dengan strategi pembangunan di bidang optimalisasi pariwisata, juga gelontoran dana desa melalui APBN ke desa semakin memuluskan pemerintah desa untuk mewujudkan wisata desa.

Hal ini pula yang terjadi di wilayah Kabupaten Malang yang memiliki 378 desa. Dimana desa sedang berlomba-lomba membangun desanya melalui sektor pariwisata. Sebut saja Pujon Kidul yang telah memperlihatkan keberhasilan pembangunannya melalui sektor pariwisata dengan cafe sawah-nya. Atau di wisata Boonpring yang terletak di wilayah Turen serta lokasi wisata lainnya di berbagai wilayah perdesaan.

Satu sisi geliat tersebut tentunya menggembirakan dengan efek ekonomi masyarakat yang terdongkrak. Tapi, sisi lainnya menyimpan sesuatu yang akan bertabrakan dengan kepentingan lingkungan hidup. Sebagai bagian dari tiga program strategis di Kabupaten Malang mengenai daya dukung lingkungan hidup.

Ada kecemasan, euforia masyarakat terjebak pada duplikasi-duplikasi bentuk wisata yang telah terbilang berhasil. Sehingga alpa terhadap bagaimana proses awal pembentukan wisata desa tersebut. 

"Contoh, wisata cafe sawah Pujon yang memakai wilayah pertanian. Apabila ini tidak dipahami dan diduplikasi secara serampangan oleh desa lain, bisa-bisa merugikan lahan-lahan pertanian atau lainnya sebagai daya dukung lingkungan hidup," kata Tomie Herawanto Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappenda) Kabupaten Malang, Kamis (28/02/2019).

Kecemasan Bappenda Kabupaten Malang juga pernah disampaikan sejak lama oleh Rendra Kresna Bupati Malang non aktif. Dimana dirinya menyampaikan, derap pariwisata desa yang mempergunakan wilayah-wilayah pertanian produktif dan lainnya, wajib dijaga dan dilindungi habitatnya. 

Seperti diketahui, saat ini potensi sumber daya alam perdesaan, baik persawahan, sungai, hutan dan lainnya dijadikan lahan-lahan wisata desa. Kecemasan Pemkab Malang melalui Bappenda tentunya beralasan. Karenanya secara tegas Tomie menyampaikan, jangan sampai pemerintah desa saat mengembangkan potensi wisata desa menabrak atau merusak lingkungan hidup.

"Jangan sampai melihat kepentingan jangka pendeknya tapi lupa jangka panjangnya. Karena itu kebijakan kita adalah pariwisata yang seiring dengan lingkungan hidup. Atau pariwisata yang menjadi bagian dari daya dukung lingkungan hidup," tegas mantan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang.

Bahkan secara tegas, Tomie mengatakan, pihaknya akan terus mengawasi persoalan tersebut. "Prinsip kebijakan Pemkab Malang saling terkait dalam pengentasan kemiskinan, pariwisata dan lingkungan hidup. Apabila di luar rel tersebut, kita tentunya akan bertindak," ucapnya yang secara konsen sejak di wilayah pertanian menjaga lahan-lahan pertanian produktif dari berbagai alih fungsi lahan.

Dari pantauan MalangTIMES, euforia masyarakat desa melahirkan wisata desa sangat tinggi. Berbagai potensi pun digali demi wisata desa. Sampai saat ini desa-desa wisata memang masih terjaga lingkungan hidupnya. Tapi, kecemasan Pemkab Malang juga sangat beralasan.

Salah satu contohnya adalah wisata Sumber Sirah Gondanglegi yang sempat menjadi viral dikarenakan terjadinya kerusakan biota sungai. Disebabkab membludaknya pengunjung ke wisata air yang terlihat semakin digemari masyarakat atau wisatawan.

"Jadi kita titip dan pesan, gali potensi wisata di desa tanpa meninggalkan, merusak, mengalihfungsikan lahan-lahan pertanian produktif atau lingkungan hidup lainnya," pungkas Tomie.

End of content

No more pages to load