Guru besar UB bidang ilmu gizi pangan Prof Dr Ir  Tri Dewanti Widyaningsih MKes (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Guru besar UB bidang ilmu gizi pangan Prof Dr Ir Tri Dewanti Widyaningsih MKes (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan guru besar. Kali ini, guru besar tersebut datang dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), yakni Prof Dr Ir Tri Dewanti Widyaningsih MKes. Hal ini menjadikan Tri Dewanti sebagai guru besar FTP yang ke-16 dan ke-246 di UB.

Dalam penelitiannya, guru besarbidang ilmu gizi pangan itu mengangkat judul "Prospek Pengembangan Pangan Tradisional Cincau Hitam (Mesona Palustris BL) sebagai Pangan Fungsional dan Suplemen Pangan untuk Peningkatan Kesehatan dan Pengendalian Penyakit".

Dewanti menjelaskan bahwa latar belakang penelitian ini adalah Indonesia yang kaya sekali akan pangan tradisional. Pangan tradisional sudah sejak dahulu kala diyakini oleh nenek moyang kita memiliki khasiat.

"Tetapi penelitian secara khasiat itu belum banyak. Jadi, hanya berdasarkan empiris turun-temurun saja. Katanya simbah misalnya. Dan itu terbukti. Artinya dengan mengonsumsi makanan tradisional tertentu, entah itu beras kencur, kunir asem, atau cincau hitam, itu lebih sehat," ujarnya saat ditemui di Gedung Widyaloka UB.

Cincau hitam, yang disebut janggelan di Jawa Timur,  terbuat dari semua bagian tanaman janggelan. Yaitu daun, ranting, batang, dan akar. Proses pembuatan cincau hitam dilakukan dengan perebusan dan penambahan abu "Qi". Ekstrak yang diperoleh harus ditambahkan pati dan dipanaskan lagi agar dapat membentuk gel. Tanpa penambahan pati, gel tidak akan terbentuk.

Gel cincau hitam dapat disimpan lebih lama dibandingkan gel cincau hijau. Hal ini menyebabkan penggunaan gel cincau hitam mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan gel cincau hijau.

Dewanti menjelaskan, gel cincau hitam biasanya diproduksi oleh UKM (usaha kecil menengah) dengan proses yang sederhana. Proses pembuatan gel cincau hitam umumnya kurang higienis karena gel dicetak di kaleng-kaleng yang korosif. Bentuk gel dengan kadar air yang tinggi membuat cincau hitam menjadi tidak awet dan mudah rusak. Oleh karena itu, perlu pengembangan produk yang lebih higienis, menarik, praktis dan awet.

"Hal inilah yang menarik dan mendorong saya untuk melakukan penelitian tentang produk-produk inovatif cincau hitam. Hasil penelitian selama lebih dari 10 tahun telah menghasilan beberapa jenis produk inovatif cincau hitam. Inovasi produk cincau hitam ini telah mendapatkan penghargaan 107 karya inovasi paling prospektif Indonesia tahun 2015 dari BIC dan Pusat Inovasi LIPI," ujar Dewanti.

Inovasi produk cincau hitam yang dikembangkan Dewanti telah mendapat 5 hak paten HAKI. Produk pengembangan cincau hitam yang dikembangkannya antara lain serbuk gel cincau hitam, liang teh cincau hitam, jelly drink cincau, serbuk teh instan, serbuk effervecent, nori cincau hitam, kapsul suplemen herbal, wedang uwuh janggelan, mi cincau hitam, dan teh celup cincau hitam.

Cincau hitam sebagai bahan pangan fungsional berbasis langan tradisional ini mempunyai manfaat sebagai imunomodulator dan antikanker, antidiabetes, antihiperkolesterolemia, hepatoprotektor, antihipertensi, antiinflamasi, dan antidiare.

"Saat saya sekolah S3, kebetulan juga disertasi saya cincau hitam untuk kesehatan, untuk meningkatkan daya tahan tubuh, dan mencegah kanker. Ternyata terbukti semua karena kandungan senyawa-senyawanya itu memang bersifat antioksidan. Bisa untuk diabet, kolesterol, diare, untuk antiinflamasi," pungkasnya.

 

End of content

No more pages to load