Ketua Senat UB Prof Dr Ir Arifin MS. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Ketua Senat UB Prof Dr Ir Arifin MS. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah mewajibkan guru besar untuk melakukan publikasi ilmiah internasional. Kebijakan ini merupakan salah satu upaya Indonesia untuk meraih peringkat pertama untuk jumlah publikasi ilmiah internasional se-Asean.

Saat ini, Indonesia berhasil mencapai peringkat dua se-Asean untuk jumlah publikasi ilmiahnya. Peringkat pertama diduduki oleh Malaysia, sedangkan peringkat ketiga yakni Singapura. Nah, target pada tahun 2019 adalah melampaui Malaysia dan meraih urutan pertama.

Di Malang, Universitas Brawijaya (UB) terus menggerakkan guru besar untuk melakukan publikasi ilmiah internasional. Bahkan, UB menyiapkan reward sebesar Rp 100 juta untuk para guru besar yang menulis jurnal. Hal ini dinyatakan oleh Ketua Senat UB Prof Dr Ir Arifin MS.

"Problemnya bagaimana menggerakkan para dosen yang sudah doktor maupun yang sudah lektor itu untuk mau menulis. Supaya mau menulis diberi reward," ujarnya saat ditemui di Gedung Widya Loka UB.

Lebih lanjut ia menjelaskan, reward untuk guru besar yang mau menulis adalah Rp 100 juta per orang. Sedangkan, untuk doktor yang sudah lektor kepala reward yang diberikan sebesar Rp 50 juta per orang. Sementara itu, reward untuk doktor yang menjabat lektor adalah Rp 25 juta.

Targetnya sendiri adalah publikasi internasional Scopus. Seperti yang diketahui, pemerintah melalui Kemenristekdikti telah menargetkan standar acuan publikasi ilmiah pada jurnal-jurnal internasional yang telah terindeks Scopus.

UB sendiri telah menerapkan kebijakan penulisan karya ilmiah internasional berstandar Scopus bagi para dosen dengan jenjang pendidikan doktor (S3). Aturan main ini sudah dibuat oleh senat.

"Insya Allah awal Maret peraturan itu sudah dilaksanakan. Rektor mempunyai kewajiban untuk melaksanakan. Dan rektor sudah mengalokasikan anggaran di 2019," ujarnya.

Dinyatakan Arifin, anggaran itu diperkirakan sekitar Rp 16-18 miliar.

 

End of content

No more pages to load