Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan, Dr. Ir. Budiar, MSi (jaket kulit hitam) ketika berfoto bersama peserta pelatihan (Hendra Saputra)

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan, Dr. Ir. Budiar, MSi (jaket kulit hitam) ketika berfoto bersama peserta pelatihan (Hendra Saputra)



MALANGTIMES - Dunia perkopian Kabupaten Malang nampaknya akan segera meningkat tajam dari sebelumnya. Karena Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) membentuk pelatihan untuk menghasilkan master trainer yang digenjot di kawasan wisata Pan Java, Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau.

Sebanyak 20 orang dari 20 kecamatan di Kabupaten Malang mengikuti pelatihan bimbingan teknologi petugas lapang komoditas perkebunan kopi, tembakau, tebu dan kakao. Para peserta itu digenjot pelatihan selama tiga hari mulai Selasa (26/2/2019) hingga Kamis (28/2/2019) mendatang.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan, Dr. Ir. Budiar, MSi ketika memberi sambutan kepada peserta pelatihan (Hendra Saputra)

Selama mengikuti pelatihan, para peserta diberi materi dari berbagai narasumber. Di antaranya Puslitkoka Jember, Balitas Malang dan PG Krebet Baru.

Hari kedua nanti masih di kawasan wisata Pan Java, peserta diberi pelatihan khusus yang diberikan DTPHP Kabupaten Malang oleh master trainer pilihannya.

Terakhir, mereka akan terjun ke kebun kopi Karangploso langsung untuk mengaplikasikan apa yang sudah didapat dalam pelatihan tersebut.

Suasana pelatihan bimbingan teknologi petugas lapang komoditas perkebunan kopi, tembakau, tebu dan kakao di Kawasan Wisata Pan Java (Hendra Saputra)

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan, Dr. Ir. Budiar, MSi mengatakan bahwa master trainer untuk saat ini langka, dan Kabupaten Malang ingin menciptakan agar perkopian semakin meningkat.

"Jadi ini program dari Kabupaten Malang, karena master trainer ini kan sekarang langka. Makanya kami membentuk supaya bisa melatih petani," ucapnya kepada MalangTIMES.

Menurut Budiar, jika ketika panen sudah salah, maka ketika pasca panen kopi juga akan mengalami kesalahan. "Kami berharap yang terbaik. Jadi apa yang ada di petani dalam hal ini ciri khasnya itu harus dipertahankan, tapi dengan adanya mater trainer ini juga harus ada inovasi agar semakin lengkap," katanya.

Lanjut Budiar, pemandu lapang atau yang akan menjadi master trainer bisa berinovasi tentang perkopian dan bisa menghasilkan produk tidak hanya di Malang, bahkan bisa di seluruh Jawa Timur ataupun Indonesia. "Seperti contoh, kopi tumbuk itu hampir punah, bahkan sekarang diakui oleh Brasil. Makanya kita harus sama-sama kembalikan khas itu dengan inovasi yang baru," pungkasnya. 

 

End of content

No more pages to load