Kasubdit Valuasi dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kemenristekdikti Juldin Bahriansyah (kiri) dan Rektor ITN Malang Lalu Mulyadi. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Kasubdit Valuasi dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kemenristekdikti Juldin Bahriansyah (kiri) dan Rektor ITN Malang Lalu Mulyadi. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Untuk yang pertama kalinya selama 60 tahun, jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia berhasil mencapai peringkat dua se-Asean. Tentunya ini dianggap sebagai sebuah prestasi yang membanggakan.

Hal ini dinyatakan oleh Kasubdit Valuasi dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kemenristekdikti Juldin Bahriansyah, ST., M.Si. saat ditemui di sela acara Pelatihan Verifikator Science and Technology Index (Sinta) yang diselenggarakan atas kerjasama Direktor Pengelolaan Kekayaan Intelektual, Kemenristekdikti dan ITN Malang.

"Dalam konteks publikasi ilmiah, Indonesia tahun 2018 itu berhasil mencapai se-Asean, mendekati Malaysia. Prestasi ini bisa dicapai setelah 60 tahun. Jadi Indonesia baru sekarang bisa mendekati Malaysia dengan margin hanya sekitar 1000 publikasi saja," ujarnya saat ditemui di lantai 8 Hotel THE 101 Malang OJ (25/2).

Lebih lanjut ia menjelaskan, jumlah publikasi ilmiah Malaysia itu berjumlah 31 ribu. Sedangkan Indonesia berjumlah 30 ribu. Sementara Singapura menempati posisi ketiga dengan jumlah publikasi yakni 22 ribu. Ditegaskan Juldin bahwa di tahun 2018, Indonesia berhasil menyalip Singapura. "Kita anggap prestasi. Kita mencapai titik itu dengan kerja keras semua pihak," imbuhnya.

Nah, target pada tahun 2019 adalah melampaui Malaysia dan meraih urutan pertama. Untuk mengupayakan ini, Indonesia perlu berusaha menambah angka 1.000.

"Artinya kalau melihat trennya, Malaysia itu sekitar 32 ribu tahun lalu paling banyak. tahun 2018 itu 31 ribu. Maka dari kita target kita di atas itu. Jadi paling tidak (jumlah publikasinya) 33 ribu," terang Juldin.

Nah, untuk mengupayakan ini, saat ini guru besar telah diwajibkan untuk publikasi internasional. Menurut Juldin, ini memang salah satu kebijakan yang dibuat Kemenristekdikti.

Sementara itu, di Kota Malang, Kemenristekdikti menunjuk perguruan tinggi ITN Malang sebagai salah satu verifikator data base penelitian akademisi atau SINTA.

Untuk diketahui, SINTA merupakan salah satu portal atau data base yang dikembangkan oleh kemenristekdikti dalam rangka pengukuran kinerja IPTEK yang meliputi kinerja dosen dan peneliti, kinerja jurnal, serta kinerja institusi.

Menurut Juldin, dipilihnya ITN Malang sebagai verifikator SINTA karena ITN Malang merupakan 1 dari 4 institusi yang memiliki kinerja Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang luar biasa di Indonesia. "Setelah ITB, IPB, ITS, ada ITN. Jadi secara kinerja HAKI itu, ITN luar biasa. Sehingga kita memberi kepercayaan kepada ITN untuk mencoba menjadi verifikator," ungkapnya.

Rektor ITN Malang Dr. Ir. Lalu Mulyadi, MT., mengapresiasi langkah Kemenristekdikti yang memilih ITN sebagai salah satu verifikator data base penelitian akademisi. Menurut Lalu, pihaknya akan melakukan penguatan Kekayaan Intelektual (KI) yang ada di ITN Malang.

"Di tempat kami khususnya sentra KI, kami membuat program bahwa percepatan dalam kaitannya dengan bagaimana memberikan support terhadap tenaga pendidik di ITN Malang. Mau tidak mau berarti harus diberikan target," pungkasnya.

End of content

No more pages to load