Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak (tengah) didampingi Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Raymond Valiant Ruritan (sebelah kanan Emil) saat melakukan tinjauan ke Bendungan Karangkates, Kecamatan Sumberpucung (Foto : Ashaq Lupito / Malan

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak (tengah) didampingi Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Raymond Valiant Ruritan (sebelah kanan Emil) saat melakukan tinjauan ke Bendungan Karangkates, Kecamatan Sumberpucung (Foto : Ashaq Lupito / Malan


Editor

A Yahya


MALANGTIMES - Jumlah air yang melimpah, belum tentu bisa dikategorikan sebagai air layak minum. Fenomena semacam itu terjadi saat ini. Dari sekian banyaknya jumlah pasokan air di Jawa Timur, yang sebagian di antaranya dipasok oleh aliran Sungai Brantas. Kenyataannya memiliki kualitas yang memprihatinkan. Hal ini juga terjadi di Kabupaten Malang.

“Ada beberapa kategori baku mutu yang dijadikan patokan untuk penilaian kualitas air. Sedangkan di sungai brantas mayoritas kualitas airnya ada di kategori 2 dan 3,” kata Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Raymond Valiant Ruritan, kepada MalangTIMES.

Raymond menjelaskan, baku mutu kategori satu artinya bisa langsung diminum. Sedangkan kategori dua baru bisa dikonsumsi setelah diolah. Sedangkan kategori tiga dan seterusnya, artinya kualitas air semakin buruk. Secara keseluruhan ada sekitar empat patokan baku mutu yang dijadikan penilaian kualitas air.

“Terdapat beberapa faktor penyebab buruknya kualitas air. Di antaranya limbah dari pembudidaya ikan keramba. Dimana limbah yang dihasilkan dari makanan ikan bisa menjadi pemicu pencemaran lingkungan,” jelas Reymond.

Selain limbah pembudidaya ikan keramba, beberapa pencemaran juga bersumber dari  limbah kimia industri maupun non kimiawi dari masyarakat. Pencemaran itu menjadi faktor penyebab kualitas sungai brantas kian memprihatinkan. Seperti halnya yang terjadi di Bendungan Karangkates, Kecamatan Sumberpucung. “Di bendungan karangkates ini, menjadi tempat berhentinya limbah kiriman dari Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang,” sambung Reymond.

Menanggapi fenomena semacam ini, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, terjun ke lapanan untuk mengantisipasi pencemaran air di Malang. Salah satunya dengan melakukan peninjauan ke Bendungan Karangkates, Minggu (24/2/2019).

“Salah satu fokus kerja kami di 99 hari menjabat, adalah kualitas lingkungan. Termasuk menangani pencemaran air. Nantinya, selain melibatkan beberapa instansi kedinasan para ahli juga bakal dilibatkan. Termasuk peran masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan perairan,” tegas pria yang akrab disapa Emil Dardak ini.

Di sela-sela kunjungan, Emil yang juga didampingi oleh Plt Bupati Malang M Sanusi menyempatkan diri untuk menebar benih ikan di kawasan bendungan karangkates.

Total ada 85 ribu benih ikan wader dan udang galah, yang sudah disiapkan untuk disebar di tiga bendungan. Yakni Bendungan karangkates, Wlingi, dan Selorejo. “Pencemaran lingkungan terjadi ketika ada pembudidaya ikan menggunakan keramba. Jika dilepas ke alam bebas tentunya tidak merusak alam. Justru memperkaya kekayaan hayati,” pungkasnya.

 

End of content

No more pages to load