MALANGTIMES - br>Celoteh Malam Sebelum Pulang

*dd nana

- Biar bunyi menemukan riuhnya kembali, walau rindu akan tetap meringkuk sunyi.

Siapa yang tak lena atas senja. Pintu warna buram yang memesona mata para pecinta. Sebelum jubah malam menutupinya perlahan-lahan dan gelap akhirnya menjadi naungan. 

Walau rindu tak pernah bisa meriuhkan ngilu dendamnya pada malam. Pada sepi yang merengkuh satu persatu bunyi. Menyembunyikannya dalam sunyi.

- Percayalah tak ada yang lebih tabah dari malam. Yang dibakar rekah matahari setiap pagi. Yang mengelupaskan kulit legamnya pada cahaya yang kerap menusuk para pecinta.

Maka, ijinkan aku mengisahkan cerita-cerita kelam sebelum pamit pulang.

1. Senja

Adalah tepi. Muara warna-warna yang dialirkan sejak Adam mengenal liur khuldi. Sesaat tapi membuat kita tercengang dalam alinea yang membuat cerita tak lagi tertebak. 

Tetesnya mengaliri sepasang mata dan membuat pejalan kaki terhenti, sesaat.

"Keindahan selalu sesaat. Maka rengkuhlah cepat." ujar pecinta yang tak bisa kembali pulang. Rumahnya telah bertempat pada setiap lenguh sepi.

Dan senja entah sejak kapan menyaru pada sepasang mata perempuan yang bukan untuk dimiliki utuh olehku. Sihirnya membuat bunyi lesap dan bersembunyi. Dan pada malam aku tersesat tidak lagi bisa kembali pulang. Sedang pagi terlalu berhamburan jarum cahaya.

Akhirnya, aku merindu senja. Walau sepasang matamu tak lagi ada.

2. Hitam

Adalah rahim warna-warna sesungguhnya. Pada kebaikannya, mata akhirnya dimanja dengan warna-warna terang dan manja. Tapi malam tetap menjaga hitamnya. Agar kisah tetap terbaca dengan seimbang. Agar marah dan kesedihan ditakar dalam bejana yang tepat dalam hitungan matematika.

"Bayangkan malam dipenuhi warna cerah yang bergentayangan? Maka kupastikan puisimu tak akan mengenal wajahnya sendiri. Tak ada gua hira, tak ada ruang-ruang pertapaan yang melahirkan adi-manusia." ucap malam yang entah sejak kapan menjadi juru bicara hitam.

Pada hitam yang rahim kita berdenyut hidup dan menuliskan cerita-cerita. Minimal, kata perempuan bermata senja, kau kerap kikuk pada cahaya terang. "Hingga hitam membuatmu tenang. Menyelam di kedalaman tubuhku,".

- Pagi sebentar lagi meretakkan wajahku. Mengusir hitam menuju tepian yang selalu kau cari ekornya. Dengan air mata yang telah lama dikeringkan udara laut selatan.

3. Jejak kaki

Menghitam sebelum hujan menghapusnya dan menghaluskannya pada awal segala penciptaan. Telapak kaki kita mulai dicumbui daratan dan alir air sungai. Dan menyimpannya sedemikian purba. Di bawah paling rahasia yang hanya terbaca oleh mereka yang berjiwa resah.

Kita menyukai teka-teki, rahasia yang jawabannya hanya untuk kita nikmati bersama. Bukan untuk berbagi. "Ini rahasia kita, biarlah seperti itu sampai hujan datang mengembalikannya pada semula," ucapmu sambil tak henti menguliti ragaku yang terengah. Dan aku mengangguk. Ikhlas dengan segala nyeri agar rahasia tetap bersembunyi pada sunyi.

"Karena bunyi tak perlu diriuhkan dalam rahasia ini, bukan begitu, cinta?".

- Kau mungkin tak akan percaya. Rumah rindu memang adanya pada rahasia sunyi. Percayalah, ragamu akan menggigil menahan nyeri. 

*Penikmat kopi lokal