Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Kiai ikut terjun dalam dunia politik dan kampanye, sebenarnya boleh atau nggak sih? Tentu masih banyak pro dan kontra tentang boleh nggak seorang kiai terlibat dalam politik praktis.

Sebagian di antara kita mungkin berpendapat jika kiai berkampanye itu hal yang lumrah dan biasa. Tapi tentu ada beberapa di antara kita juga yang merasa itu tidak seharusnya dilakukan oleh seorang kiai dan ulama. Lantas bagaimana dengan pendapat KH Marzuki Mustamar?

Dalam sebuah kesempatan dialog kebangsaan yang diselenggarakan di Auditorium Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana, Sabtu (23/2/2019), Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur itu berpendapat jika seorang kiai dan ulama memang semestinya mengenal politik.

"Paling tidak mengenal apa itu politik. Untuk mengetahui mana yang baik dan tidak, dan bisa menyampaikan kepada jamaahnya," katanya di hadapan puluhan audinience yang hadir dalam kegiatan tersebut.

KH Marzuki menjelaskan, ada banyak kritik pedas yang memang disampaikan dengan keterlibatan seorang kiai dalam sebuah proses politik. Namun, para kiai pada akhirnya memilih untuk tetap menjadi bagian dari politik. Lantaran itu adalah bentuk dari sebuah perjuangan untuk turut membangun negeri ini.

"Karena ini adalah bagian perjuangan kami agar negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang benar dan manut dengan kiai meski nggak 100 persen manut," jelasnya.

Lebih jauh dia menyampaikan, peran serta kiai dalam proses politik menjadi penting. Sehingga saat terjadi sebuah pergerakan yang tak diinginkan, minimal kiai dapat masuk mengingatkan kepada para pemangku pemimpin, baik di tingkat daerah maupun nasional.

"Kalau kita ogah terlibat dalam politik, bagaimana kita bisa mengingatkan pemimpin kita jika ada hal yang nggak bener. Seperti pergerakan radikal misalnya. Kalau kita terlibat sejak awal, maka minimal kita bisa mengingatkan para pemimpin. Itulah kenapa kiai sekarang nyrempet-nyrempet politik," jelasnya disambut tawa audiense yang hadir.

Dalam kesempatan itu dia juga mengingatkan agar para generasi muda menggunakan hak pilihnya. Karena masa depan negeri ini sepenuhnya ada di tangan anak muda. Dia juga menjelaskan agar para pemuda memilih dengan cerdas.

Salah satunya adalah memilih calon yang selalu berusaha menjaga NKRI. Bukan calon pemimpin yang sebelumnya mengkafirkan Pancasila dan Indonesia. Selain itu terseret oleh kelompok yang berusaha menghancurkan persatuan bangsa dan ideologi Pancasila.

"Jangan kasihkan negeri ini kepada orang yang tidak mencintai NKRI dan Pancasila," paparnya lagi.

Pada intinya, lanjut Marzuki, ideologi Pancasila tidak dapat diubah. Dia juga menekankan jika Islam tidak bisa berdiri sendiri di negeri ini. Melainkan harus tetap saling merangkul satu sama lain dan menjaga keutuhan NKRI.

"Jangan dikira saat menjadi khilafah negeri ini akan damai. Nggak ada sama sekali seperti itu, justru akan lebih hancur," pungkasnya.