17 Tahun Berseteru Gara-Gara Pilkades, Dua Tokoh Akhirnya Islah

MALANGTIMES - Sebuah momentum bersejarah terjadi di Desa Cantuk, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi,  Kamis (21/2/19) malam. Dua tokoh desa setempat yang berseteru selama 17 tahun melakukan islah. 

Mereka adalah Fauzi dan Masbudi. Keduanya saling bermaafan dan sepakat untuk berjalan bersama untuk membangun wilayahnya.

Momen penting ini disaksikan langsung ratusan warga Cantuk, tokoh agama, tokoh masyarakat, forpimka, bupati Banyuwangi serta kapolres Banyuwangi. Suasana haru dan bahagia menyelimuti mulai awal hingga akhir pelaksanaan islah yang dikemas dalam bentuk pengajian dan istighotsah itu.

Dalam islah tersebut, Fauzi tidak banyak berkata-kata. Setelah bersalaman dan berpelukan dengan Masbudi, dia pun meminta maaf kepada seluruh warga Desa Cantuk. Dia bersyukur setelah 17 tahun berkonflik dengan Masbudi, akhirnya bisa berdamai kembali. “Saya siap membantu jika dibutuhkan pihak desa,” tegasnya di hadapan jamaah pengajian.

Dalam kesempatan yang sama, Masbudi mengaku sebenarnya secara pribadi dirinya dengan Fauzi tidak punya masalah. Namun, Masbudi yang saat ini menjabat sebagai kepala desa Cantuk menyebut selama ini perseteruan mereka selalu meningkat pada saat momentum pemilihan kepala desa. Ini tidak terlepas dari adanya pihak yang melakukan taruhan pada pemilihan Kepala desa.

Untuk itu, dirinya bersama Fauzi sepakat jika setelah ini ada yang mengungkit persoalan pilkades,  akan segera dipanggil dan selanjutnya diselesaikan bersama-sama. “Ini yang menjadi musuh kita bersama. Jadi, mulai sekarang jangan sampai ada yang mengungkit masalah pilkades lagi,” tegasnya.

Masbudi dan Fauzi memang sama-sama memiliki basis massa yang kuat. Sehingga sebelumnya muncul kesan perseteruan tidak hanya antara kedua tokoh ini. Namun lebih luas lagi antara Dusun Cantuk Lor dan Dusun Cantuk Kidul.

Perdamaian antara kedua tokoh ini diawali dari persahabatan  anak-anak mereka. Kebetulan, putri Fauzi, Febriana Safitri, dan putri Masbudi, Tesa Mellina, seumuran dan sama-sama menimba ilmu di pesantren yang sama.

Masbudi menyebut, suatu saat anaknya meminta diantarkan ke rumah Febriana Safitri. Dia pun mengantarkan anaknya ke rumah Fauzi. Setiba di depan rumah Fauzi, anaknya turun dari mobil dan disambut pelukan oleh anak Fauzi. “Saat itu saya masih bingung mau turun dari turun dari mobil atau tidak,” ungkapnya.

Saat itulah, Fauzi datang dan mengajaknya masuk ke rumah dan berbincang-bincang. Setelah itu, dirinya mengundang Fauzi untuk hadir pada musrenbang  desa. Dan ternyata Fauzi hadir. 

“Alhamdulillah pada malam ini ada kerukunan. Kami tidak percaya bisa terjadi islah. Sebelumnya saya sempat menyerah,” kata Masbudi.

Perdamaian antara kedua tokoh ini mendapatkan apresiasi dari Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi. Ini setelah dirinya mengetahui cerita panjang perseteruan antara dua Dusun tersebut. Kapolres pun memberikan penghargaan kepada putri kedua tokoh ini. Penghargaan diberikan atas usahanya mendamaikan Dusun Cantuk Lor dan Cantuk Kidul.

Kapolres mengatakan bahwa keamanan dan ketertiban masyarakat merupakan salah satu perbuatan yang diridai  Allah. Perdamaian ini dapat menjadi inspirasi terutama bagi desa-desa lain yang masih berseteru di wilayah Indonesia akibat perbedaan pilihan calon kepala desa. "Mari kita jaga perdamaian ini, kita rawat. Mari kita tutup lembaran lama dan kita buka lembaran baru," pesannya.

Top